
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Kabar tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membawa angin segar bagi kondisi fiskal Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, meredanya konflik geopolitik tersebut berpotensi menekan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Purbaya, selama beberapa bulan terakhir pemerintah harus mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia dengan menambah alokasi subsidi dan kompensasi energi. Namun, dengan adanya sinyal perdamaian antara dua negara tersebut, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan akan mereda.
“Sebagian anggaran sebelumnya sudah kami sisihkan untuk subsidi. Kalau kondisi membaik, tentu akan ada ruang fiskal yang bisa dimanfaatkan untuk program prioritas lainnya,” ujarnya usai rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Data APBN hingga 31 Mei 2026 menunjukkan tekanan signifikan dari sektor energi. Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) melonjak dari asumsi awal US$70 per barel menjadi US$91,9 per barel secara year to date. Kenaikan ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang turut meningkatkan beban subsidi.
Akibatnya, realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp203,7 triliun atau melonjak 208,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat pemerintah harus melakukan refocusing dan prioritisasi anggaran dalam beberapa bulan terakhir.
Purbaya menegaskan, pemerintah akan segera mengevaluasi ulang kondisi fiskal setelah perkembangan terbaru dari kesepakatan damai tersebut. Penyesuaian anggaran akan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan stabilitas ekonomi nasional.
“Kami akan lihat perkembangan ke depan, baru kemudian dilakukan penyesuaian anggaran,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi lonjakan harga minyak global, termasuk kebijakan penghematan energi dan skema kerja dari rumah (WFH) yang sempat diterapkan pada Maret 2026. Selain itu, refocusing anggaran kementerian/lembaga juga dilakukan dengan nilai mencapai Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun.
Di sisi lain, pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite dan Solar tetap stabil hingga akhir tahun, dengan asumsi harga minyak berada di kisaran US$100 per barel.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran sendiri dikabarkan akan ditandatangani secara resmi pada 19 Juni 2026 di Swiss. Proses negosiasi berlangsung intensif selama beberapa bulan dengan Pakistan sebagai mediator, serta dukungan dari Qatar.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan bahwa kedua negara telah sepakat menghentikan seluruh operasi militer, termasuk di kawasan strategis seperti Lebanon. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut stabilitas kawasan akan berdampak langsung pada pemulihan perdagangan minyak dan pasar keuangan global.
Dengan meredanya konflik, harga minyak dunia diproyeksikan turun, sehingga memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas APBN sekaligus memperluas ruang belanja untuk program pembangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































