Harianjogja.com, SLEMAN— Kebutuhan darah di Kabupaten Sleman masih jauh melampaui ketersediaan. Data terbaru menunjukkan distribusi darah mencapai 39.210 kantong sepanjang 2025, sementara produksi hanya 26.426 kantong. Kesenjangan ini menjadi alarm serius bagi keberlanjutan layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, mengungkapkan hingga Juni 2026 terdapat 98.163 pendonor yang terdaftar. Namun angka tersebut belum cukup untuk memenuhi tingginya kebutuhan darah masyarakat.
"Melalui peringatan Hari Donor Darah Sedunia ini kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjadi pendonor darah sukarela secara rutin. Satu kali donor darah dapat memberikan harapan hidup bagi sesama yang membutuhkan. Gerakan donor darah yang kuat dimulai dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kita," kata Mafilindati.
Dalam peringatan Hari Donor Darah Sedunia (HDDS) 2026 di Pendopo Parasamya, PMI memberikan apresiasi kepada para pendonor setia. Sebanyak 112 orang menerima penghargaan dari PMI DIY karena telah mendonorkan darah 50 kali, sementara 606 pendonor lainnya diapresiasi PMI Sleman karena telah mencapai 25 kali donor.
Apresiasi ini diharapkan mampu memantik kesadaran masyarakat luas untuk ikut terlibat aktif dalam gerakan kemanusiaan tersebut. Sebab, ketersediaan darah sangat bergantung pada partisipasi sukarela masyarakat.
Di sisi lain, tantangan juga muncul dari proses seleksi pendonor. Kepala Unit Donor Darah PMI Sleman, Raden Hari Ahmad Muhsin, mengungkapkan pada triwulan pertama 2026 terdapat 1.021 calon pendonor yang gagal mendonorkan darah.
Penyebab utamanya adalah kadar hemoglobin (Hb) yang tidak memenuhi syarat. Sebanyak 634 orang memiliki Hb rendah, sementara 79 orang justru memiliki Hb terlalu tinggi. Selain itu, faktor kesehatan lain seperti tekanan darah tidak stabil dan riwayat penyakit juga menjadi kendala.
Tak hanya itu, sebanyak 65 calon pendonor tidak lolos karena hasil skrining awal yang reaktif, sedangkan 107 lainnya terkendala kondisi sementara seperti menstruasi, belum cukup jeda donor, atau baru menjalani terapi tertentu.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung ketersediaan darah melalui berbagai inovasi, salah satunya program Lada Manis (Layanan Darah di Sleman Gratis).
"Kami meyakini setiap tetes darah adalah bentuk harapan kehidupan bagi penerimanya. Dengan semangat tulung tinulung dan kepedulian sosial yang tinggi, kebutuhan darah masyarakat dapat terus terpenuhi dengan baik," katanya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi kebutuhan vital. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, risiko kekurangan stok darah akan terus membayangi layanan kesehatan di Sleman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































