Kadin DIY Sebut Kekuatan Ekonomi Jogja Bukan Tambang Fisik, tapi Tambang Ide

4 hours ago 4

Kadin DIY Sebut Kekuatan Ekonomi Jogja Bukan Tambang Fisik, tapi Tambang Ide

Kadin DIY menyebut kekuatan ekonomi Jogja sebagai “tambang ide”. Riset kampus didorong terhubung dengan industri dan pasar. /Harian Jogja-Stefani Yulindriani.

Harianjogja.com, JOGJA—Kekuatan ekonomi Jogja dinilai tidak bertumpu pada sumber daya alam seperti pertambangan. Potensi yang justru dinilai menjadi kekuatan daerah ini adalah sumber daya manusia, ide, serta inovasi yang perlu dihubungkan dengan dunia industri dan pasar.

Wakil Ketua Umum Bidang Kelautan, Perikanan, dan Sumber Daya Maritim Kadin DIY, Aryo Wiryawan, menyebut Jogja tidak memiliki sumber daya alam besar seperti tambang. Karena itu, kekuatan ekonomi Jogja menurutnya berada pada ide dan inovasi.

"Kekuatan ekonomi kita itu apa? Tambang ide. Bukan tambang fisik. Itu yang kita lihat dari Kadin DIY sebagai asosiasi pengusaha bahwa tambang ide ini akan sangat menarik kalau bisa dihilirisasi. Kita sambungkan dengan industri dan kita sambungkan dengan pasar," tuturnya dalam Kick Off Global Innovation & Future Technology Summit (GIVE) 2026 di GIK UGM, Selasa (22/9/2026).

Menurut Aryo, riset yang dihasilkan perguruan tinggi di Jogja perlu didorong agar tidak berhenti sebagai paper yang kemudian tersimpan di perpustakaan. Riset tersebut diharapkan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian.

Dia mengatakan kebutuhan dunia industri sebenarnya dapat dijawab melalui berbagai riset yang dikembangkan perguruan tinggi. Untuk itu, kolaborasi antara kampus dan pelaku usaha perlu dibangun secara berkelanjutan.

Pelaku usaha, lanjut Aryo, dapat membawa persoalan yang mereka hadapi di pasar maupun terkait produk kepada perguruan tinggi. Persoalan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi bahan riset untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas akses pasar.

"Jadi ini nanti akan menjadi perputaran riset sirkular yang tidak hanya satu arah dari kampus sampai dengan ke pasar, tapi juga dari industri ke kampus kemudian ke pasar lagi," katanya.

Potensi Jogja Belum Optimal

Sementara itu, Direktur Direktorat Pengembangan Usaha UGM, Prof. Ir. Wiratni, mengatakan Jogja sebenarnya memiliki modal besar untuk melahirkan berbagai inovasi.

Selain dikenal sebagai kota pendidikan, Jogja memiliki banyak perguruan tinggi dan juga dikenal sebagai kota budaya. Dua karakter tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mendorong lahirnya inovasi.

"Jogja ini sebetulnya sudah sangat istimewa karena kita sejak lama dikenal sebagai kota pendidikan, jadi ini pasti isinya orang pintar-pintar. Kita dikenal sebagai kota budaya berarti kita ini orang-orang yang sangat berbudaya," ujarnya.

Namun, menurut Wiratni, potensi tersebut belum optimal karena pihak-pihak yang memiliki kapasitas belum cukup banyak dipertemukan untuk membangun kolaborasi.

Kondisi tersebut membuat inovasi yang lahir dari Jogja belum banyak masuk ke pasar dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Karena itu, GIVE diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang selama ini bekerja secara terpisah. Pihak tersebut mencakup perguruan tinggi, dunia usaha, hingga masyarakat.

"Event GIVE ini ditujukan untuk mempertemukan orang-orang supaya yang tadinya bekerja secara terpisah, orang-orang hebat yang bekerja secara terpisah, sekarang mari kita persatukan kerja bareng supaya betul-betul ada inovasi yang lahir dari Jogja," katanya.

Inovasi Tak Harus Berorientasi Keuntungan

Wiratni menambahkan kolaborasi antara berbagai pihak tersebut tidak harus selalu berorientasi pada keuntungan finansial.

Perguruan tinggi juga diharapkan dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat melalui inovasi dan riset yang dimiliki. Salah satu persoalan yang dicontohkan adalah masalah sampah.

Dalam skema tersebut, Kadin DIY diharapkan dapat membantu mencarikan pembiayaan bersama untuk mengembangkan solusi yang dihasilkan.

Dengan demikian, inovasi yang lahir dari kolaborasi antara kampus dan industri tidak hanya memberikan manfaat bagi dunia usaha, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat secara lebih luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |