JOGJA—Ratusan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Jogja kembali terlibat dalam aksi bersih-bersih lingkungan melalui Gerakan Jogja Berhati Nyaman yang digelar serentak setiap Jumat Wage.
Program yang diinisiasi Pemerintah Kota Jogja tersebut tidak hanya menyasar lingkungan sekolah, tetapi juga ruang-ruang publik seperti trotoar, jalan lingkungan, hingga kawasan sungai.
Kegiatan yang berlangsung di berbagai titik kota itu menjadi bagian dari upaya membangun budaya hidup bersih dan sehat sekaligus memperkuat pendidikan karakter bagi para pelajar. Selain melibatkan sekolah, gerakan tersebut juga diikuti seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Jogja.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja, Budi Santosa Asrori, menjelaskan Gerakan Jogja Berhati Nyaman dirancang sebagai upaya membentuk kebiasaan positif yang dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Tujuan utamanya adalah bagaimana kita menciptakan perilaku hidup sehat dan bersih. Mudah-mudahan dengan kerja bakti serentak ini, Yogyakarta menjadi kota yang nyaman, indah, dan bersih, sekaligus membentuk karakter anak-anak,” ujarnya.
Menurut Budi, kegiatan tidak hanya difokuskan di dalam area sekolah. Pelajar juga diajak membersihkan lingkungan sekitar sekolah dengan radius tertentu yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.
Untuk siswa sekolah dasar, area kegiatan dibuat lebih terbatas demi faktor keselamatan. Sementara siswa sekolah menengah pertama diberi ruang yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan kebersihan lingkungan.
“Gerakan ini untuk motivasi saja. Harapannya, cita-cita yang agak tinggi itu, kualitas kota Jogja yang alhamdulillah sudah cukup bagus bisa tercermin dari kondisi sarpras, fisiknya yang indah asri. Aman asri, resik indah,” tandasnya.
Salah satu sekolah yang aktif menjalankan program tersebut adalah SMP Negeri 6 Yogyakarta. Kepala SMPN 6 Yogyakarta, Dwi Isnawati, mengatakan sekolahnya telah mengembangkan program pengelolaan sampah melalui gerakan Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah).
Menurutnya, program tersebut berhasil menekan volume sampah yang dihasilkan sekolah melalui pengelolaan sampah organik dan anorganik secara lebih sistematis.
“Dengan 5 langkah Mas JOS itu kami sudah melaksanakan dan hasilnya luar biasa, volume sampah di sekolah turun secara signifikan,” ungkapnya.
SMPN 6 Yogyakarta juga mengembangkan biopori berukuran besar untuk mengolah sampah organik. Sementara sampah anorganik dikelola melalui sistem tabungan sampah yang memungkinkan siswa memperoleh manfaat ekonomi.
“Anak-anak itu punya buku tabungan sampah, punya tabungan berupa uang yang bisa dimanfaatkan siswa-siswa kelas,” tambahnya.
Selain itu, sekolah menerapkan kebiasaan membawa tumbler dan wadah makan sendiri guna mengurangi sampah sekali pakai. Siswa juga didorong membawa pulang sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih layak dikonsumsi.
“Harapannya nanti ke depan tidak hanya menjadi pembiasaan tapi bisa menjadi sebuah kebudayaan,” kata Dwi.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikpora Kota Jogja, Hasyim, menjelaskan bahwa gerakan tersebut juga terintegrasi dengan lomba kebersihan sekolah yang melibatkan Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup.
Penilaian lomba berlangsung hingga 16 Februari 2026 dengan tujuan mendorong sekolah menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan lingkungan.
“Harapannya tim juri bisa menilai secara komprehensif sehingga sekolah yang menjadi juara betul-betul bisa menjadi contoh dan berbagi praktik baik bagi sekolah lain,” jelasnya.
Tidak hanya di lingkungan sekolah, aksi kebersihan juga digelar di kawasan publik. Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Jogja, Mugi Suyatno, menyebut sekitar 500 pelajar diterjunkan di kawasan Simpang Empat Jetis untuk membersihkan area publik.
“Muaranya ini menjadi program kegiatan pendidikan karakter bagi pelajar di Kota Yogyakarta, khususnya di aspek habituasi pelajar peduli terhadap lingkungan, agar ke depannya budaya bersih menjadi budaya pelajar dan budaya Kota Jogja,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara pelajar, guru, ASN, dan masyarakat, Gerakan Jogja Berhati Nyaman diharapkan mampu memperkuat budaya gotong royong sekaligus mewujudkan Kota Jogja yang lebih bersih, nyaman, dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































