Peserta lokakarya program Next Level tampil diiringi DJ Tyler Smith di Pendopo Diponegoro, kompleks PSBK, Jumat (6/2). - Istimewa/PSBK
Harianjogja.com, BANTUL--Sejak kelahirannya, hiphop bukan sekadar bicara soal kesenian. Ia menjadi produk budaya yang lahir dari pengalaman masyarakat terpinggirkan di New York, Amerika Serikat (AS), tetapi begitu lekas menyebar dan beradaptasi di berbagai belahan dunia, termasuk Jogja. Tak heran, oleh AS, hiphop menjadi semacam alat diplomasi budaya yang terbilang efektif.
Jumat (6/2) malam, Pendopo Diponegoro di kompleks Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) penuh sesak oleh ratusan orang. Tubuh mereka sesekali bergoyang, seiring dengan dentuman beat khas turntable dan lampu panggung yang berkilatan.
Malam itu, mereka berpesta diiringi musik yang sengaja diproduksi secara sampling dan looping. Rap, dance, dan lincah jari disjoki menjadi pusat perhatian ratusan orang yang hadir dan ikut bergoyang. Malam itu, hiphop benar-benar membius seantero PSBK.
Dentum beat hiphop yang menggema di Pendopo Diponegoro bukan sekadar penanda dimulainya sebuah acara pertunjukan musik, melainkan jejak panjang diplomasi budaya Amerika Serikat yang terus bergerak lintas generasi dan batas geografis.
Melalui program Next Level yang digagas oleh U.S. Department of State & Meridian International Center, Kedutaan Besar AS di Jakarta, hiphop yang lahir dari ruang-ruang marjinal di AS hadir sebagai bahasa global yang menjembatani dialog kultural, termasuk dengan komunitas muda di DIY.
Di ruang ini, hiphop tidak tampil sebagai produk budaya impor semata, tetapi sebagai medium pertukaran nilai, pengalaman, dan identitas yang hidup. “Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat membangun koneksi lintas budaya yang berkelanjutan serta memperkuat komunitas seni di kedua negara [AS dan Indonesia],” kata Direktur Program Hiphop Next Level, Junious Brickhouse, beberapa waktu lalu.

Peserta lokakarya program Next Level tampil bersama DJ Tyler Smith di Pendopo Diponegoro, kompleks PSBK, Jumat (6/2). (Istimewa/PSBK)
Sebagai sebuah diplomasi budaya, program Next Level tidak menampilkan hiphop berhenti di panggung pertunjukan sebagai tontonan, tetapi lebih sebagai ruang pertemuan antara pelaku hiphop, komunitas kreatif, dan publik yang lebih luas.
Itulah sebabnya, pemilihan Jogja sebagai salah satu lokasi digelarnya program tersebut tahun ini—selain Medan (26-28 Januari 2026)—menjadi masuk akal, mengingat kuatnya komunitas hiphop bercokol, tumbuh, dan mengakar di kota ini.
Di titik ini, PSBK sebagai tuan rumah berperan penting sebagai ruang artikulasi untuk mempertemukan praktik budaya populer dengan refleksi kritis, sekaligus menjaga agar hiphop tidak tereduksi menjadi komoditas semata.
Setidaknya, kehadiran lima seniman sekaligus edukator dalam program ini menjadi bukti diplomasi budaya itu. Kelima seniman itu, masing-masing adalah Irie Givens (rapper), Tyler Smith (disjoki), Chrybaby Cozie (dancer), Alice Mizrachi (aerosol art), dan Brent Hearn (videografer).
Selama lebih dari sepekan, sejak 31 Januari hingga 8 Februari 2026, mereka menjadi mentor sekaligus teman diskusi dan berbagi apapun tentang cabang seni yang mereka geluti selama ini kepada puluhan seniman asal Indonesia lewat sebuah lokakarya.

Peserta lokakarya program Next Level tampil bersama Chrybaby Cozie
di Pendopo Diponegoro, kompleks PSBK, Jumat (6/2). (Istimewa/PSBK)
Kelimanya, tak hanya saling sharing dengan seniman lokal perihal teknis penciptaan karya, tetapi juga membuka ruang kesadaran bahwa hiphop dapat menjadi alat refleksi, perlawanan, sekaligus pertemuan.
Di Next Level, lokakarya berubah menjadi momen belajar bersama, tentang seni, identitas, dan juga kemungkinan membangun dialog budaya melalui ritme dan warna, dan beat.
Dalam konteks diplomasi budaya, hiphop bekerja melalui narasi dan pengalaman. Lirik, gestur, beat, dan visual yang ditampilkan membawa cerita tentang realitas sosial, ketimpangan, harapan, dan daya tahan komunitas. Ketika pengalaman lokal ini dipresentasikan dalam forum terbuka, ia menjadi pesan kultural yang dapat dipahami lintas budaya. Inilah kekuatan hiphop sebagai diplomasi: ia tidak berbicara dengan bahasa formal kebijakan, melainkan dengan emosi, ritme, dan kejujuran pengalaman.

Seniman aerosol art, Alice Mizrachi (kiri) bersama peserta lokakarya program Next Level
menggambar di dinding salah satu bangunan di kompleks PSBK, Jumat (6/2). (Istimewa/PSBK)
Sejak kelahirannya, hiphop memang membawa watak kosmopolitan. Ia lahir dari pengalaman lokal yang terpinggirkan, tetapi cepat menyebar dan beradaptasi di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, termasuk di Jogja, hiphop bertransformasi dengan menyerap konteks lokal, mulai dari bahasa daerah, persoalan sosial, hingga ingatan kolektif masyarakat.
Diplomasi Lunak
Dalam konteks ini, Next Level di PSBK menjadi contoh bagaimana praktik hiphop dapat berfungsi sebagai soft power diplomacy, di mana sebuah negara memengaruhi perilaku, opini, maupun kebijakan negara lain melalui daya tarik, persuasi, dan budaya, bukan dengan hard power atau ancaman kekuasaan. “Kedutaan Besar AS di Jakarta mendukung kolaborasi dengan industri kreatif. Melalui Next Level, generasi muda membangun keterampilan baru dan saling terhubung. Salah satunya lewat hiphop,” kata Minister Counselor for Public Diplomacy di Kedubes AS di Jakarta, Jason Rebholz, melalui keterangan tertulis.
Selain itu, kata dia, Next Level juga mencerminkan nilai-nilai demokrasi yang sampai kini dianut, baik oleh AS maupun Indonesia. Itulah sebabnya, sangat relevan jika hasil lokakarya Next Level di PSBK dipresentasikan dalam acara Freedom 250 Roadshow di Sankara Hall kompleks de Tjolomadoe, Solo, Sabtu (9/2).
Freedom 250 Roadshow merupakan serangkaian acara yang disiapkan untuk memperingati 250 Tahun Kemerdekaan AS dan memperkuat kemitraan yang kuat dan berkelanjutan antara AS dan Indonesia. Acara ini menampilkan berbagai program yang menyoroti pendidikan, pertukaran budaya, kerja sama ekonomi, keamanan maritim, dan hubungan masyarakat, yang mencerminkan persahabatan yang telah lama terjalin antara kedua negara.
Selain Jogja dan Solo, Freedom 250 Roadshow juga digelar di sejumlah kota, di antaranya Batam, Natuna, dan Makassar.
Wakil Duta Besar AS Kedutaan Besar AS di Jakarta, Heather C. Meritt, dalam sambutannya saat acara Freedom 250 Roadshow, Sabtu, mengatakan Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat telah saling belajar melalui program pertukaran pendidikan, pembelajaran bahasa Inggris, serta hubungan antarmasyarakat yang kuat.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan PSBK, Jeannie Park, menegaskan bahwa kolaborasi lewat Next Level mampu menjadi momentum penguat hubungan budaya AS dan Indonesia.
Menjadi tuan rumah Next Level, kata dia, memungkinkan pihaknya untuk mendorong terciptanya dialog antara seniman AS dan Indonesia, khususnya Jogja. “Melalui kolaborasi ini, kami berharap bisa membangun koneksi lintas budaya yang berkelanjutan serta memperkuat komunitas seni di kedua negara,” kata Jeannie.

Peserta lokakarya program Next Level menggambar di dinding
saat berada di Sankara Hall kompleks de Tjolomadoe, Solo, Sabtu (9/2). (Harian Jogja/Arief Junianto)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































