Jamasan Pusaka di Gunungkidul, Ini Makna Filosofis di Balik Ritual

14 hours ago 3

Jamasan Pusaka di Gunungkidul, Ini Makna Filosofis di Balik Ritual

Prosesi jamasan pusaka milik Pemkab Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo di Kapanewon Wonosari, Kamis (9/7/2026).Foto istimewa Humas Pemkab Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar tradisi jamasan pusaka atau Tosan Aji di Bangsal Sewokoprojo, Kamis (9/7/2026). Ritual tahunan yang digelar setiap Bulan Suro dalam kalender Jawa ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya warisan leluhur.

Prosesi diawali dengan pengambilan sejumlah pusaka milik Pemkab Gunungkidul yang disimpan di Bangsal Sewokoprojo. Beberapa pusaka yang dijamas antara lain Tombak Kiai Margo Salurung, Kiai Pandoyo Panjul, Songsong Kiai Obong, Kiai Titis, hingga Kiai Supro Manis.

Pusaka-pusaka tersebut kemudian diarak oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, menciptakan suasana sakral yang kental dengan nuansa tradisi.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Gunungkidul, Agung Danarto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan, serta Perda Nomor 10 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Kebudayaan Daerah.

“Jamasan ini menjadi bagian dari pelestarian budaya warisan para leluhur,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan jamasan tidak hanya terpusat di Bangsal Sewokoprojo. Rangkaian kegiatan juga akan digelar di sepuluh lokasi lain di wilayah Gunungkidul, termasuk di Taman Budaya Gunungkidul.

Beberapa lokasi tersebut di antaranya Kalurahan Jerukwudel di Kapanewon Girisubo, Dadapayu di Kapanewon Semanu, Ngawu di Kapanewon Playen, hingga Kalurahan Kemadang di Kapanewon Tanjungsari. Seluruh rangkaian jamasan dijadwalkan berlangsung mulai 13 hingga 25 Juli 2026.

Bupati Gunungkidul, Enah Subekti Kuntarningsih, turut hadir dalam prosesi tersebut. Ia bahkan melakukan pengecekan langsung terhadap pusaka milik organisasi perangkat daerah (OPD) yang akan dijamas.

Menurutnya, tradisi ini merupakan kelanjutan dari jamasan akbar yang sebelumnya digelar di Kraton Yogyakarta, sekaligus menjadi agenda penting dalam menjaga nilai-nilai budaya daerah.

Lebih dari sekadar ritual membersihkan benda pusaka, jamasan memiliki makna filosofis yang mendalam. Enah menjelaskan bahwa Tosan Aji seperti keris, tombak, dan pedang tidak hanya bernilai historis, tetapi juga simbol jati diri dan spiritualitas.

Istilah “Wesi Aji” sendiri mencerminkan karya para empu masa lalu yang memadukan keahlian menempa logam dengan doa dan nilai-nilai spiritual. Oleh karena itu, jamasan juga dimaknai sebagai proses penyucian diri, bukan hanya secara fisik tetapi juga batin.

“Jamasan bukan sekadar membersihkan pusaka, tetapi juga sebagai simbol pembersihan hati dan jiwa agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Enah.

Ia berharap melalui pelestarian tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya untuk membangun Gunungkidul yang lebih adil, harmonis, dan sejahtera.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |