
Rudal Iran- Photo by Moslem Daneshzadeh on Unsplash via MUI.or.id\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA—Rusia diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran yang membantu negara tersebut melakukan serangan presisi terhadap aset militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Informasi tersebut disebut dikumpulkan melalui aktivitas satelit mata-mata Rusia yang memantau fasilitas serta pergerakan aset militer AS.
Laporan terbaru Daily Beast mengungkap dugaan penggunaan satelit mata-mata Rusia untuk mengumpulkan informasi mengenai fasilitas dan pergerakan aset militer AS. Dugaan tersebut menjadi sorotan karena sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya mempercayai Presiden Rusia Vladimir Putin dan meyakini Rusia tidak membantu Iran.
CNN Internasional kemudian melaporkan salah satu satelit mata-mata Rusia, Cosmos 2573, termasuk dalam konstelasi sedikitnya 14 satelit Rusia yang terpantau melintas di atas Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.
Pergerakan satelit-satelit tersebut tercatat hanya dua hari sebelum Iran melancarkan serangan besar terhadap pangkalan itu pada 27 Maret 2026.
Serangan tersebut menyebabkan 12 personel militer AS terluka. Sejumlah aset penting juga mengalami kerusakan, termasuk pesawat Boeing E-3 Sentry atau AWACS yang digunakan untuk sistem peringatan dini, pengawasan udara, dan komando.
Pola Pergerakan Satelit Rusia
CNN menganalisis data orbit satelit bersama Project Aurora dan Kayhan Space. Hasil analisis menunjukkan 14 satelit Rusia melintas di atas pangkalan dalam pola yang memungkinkan pengumpulan berbagai jenis informasi secara berurutan.
Cosmos 2573 disebut mempunyai kemampuan mengambil citra beresolusi tinggi. Sementara itu, satelit Rusia lainnya memiliki kemampuan pengintaian elektronik, sensor inframerah, serta radar aperture sintetis atau Synthetic Aperture Radar (SAR).
Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa terdapat bukti informasi yang dikumpulkan satelit Rusia diberikan kepada Iran dan membantu setidaknya sejumlah serangan presisi.
Meski demikian, CNN tidak memiliki akses langsung terhadap citra satelit Rusia. Analisis mengenai aktivitas satelit tersebut dilakukan berdasarkan data orbit dan informasi dari sumber-sumber yang mengetahui intelijen tersebut.
CNN juga tidak menemukan bukti langsung yang dapat dipublikasikan mengenai setiap proses pengiriman data dari satelit Rusia kepada Iran.
Kemampuan Rudal Iran Jadi Sorotan
Dugaan bantuan intelijen Rusia tersebut muncul ketika kemampuan rudal Iran dalam membidik aset Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Serangkaian serangan Iran terhadap kapal perang AS disebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan persenjataan Teheran.
Meski belum ada laporan mengenai kapal perang AS yang berhasil dihantam rudal Iran, kemampuan Teheran dalam mengarahkan serangan terhadap aset yang bergerak dinilai meningkatkan ancaman bagi pasukan AS di kawasan.
Sejumlah pejabat dan analis AS bahkan mulai mempertanyakan apakah Iran memperoleh bantuan dari Rusia atau China, terutama dalam hal teknologi maupun informasi yang digunakan untuk melacak posisi kapal perang AS.
Dengan demikian, aktivitas satelit Rusia di sekitar Pangkalan Udara Prince Sultan menjadi bagian dari sorotan terhadap dugaan dukungan intelijen kepada Iran. Namun, berdasarkan laporan yang tersedia, belum terdapat bukti langsung yang dapat dipublikasikan mengenai setiap proses pengiriman data dari satelit Rusia kepada Iran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































