
Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026), didorong kombinasi sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Pada sesi pembukaan, IHSG naik 23,59 poin atau 0,40% ke level 5.936,04.
Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang naik 4,13 poin atau 0,10% ke posisi 590,04. Kenaikan ini menunjukkan optimisme investor terhadap prospek pasar saham Indonesia di tengah dinamika global.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyebutkan bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 5.900, peluang penguatan lanjutan masih terbuka. Target terdekat berada di kisaran 5.987 hingga 6.045–6.107. Namun, jika kembali turun di bawah level tersebut, IHSG berpotensi menguji area support di 5.839 hingga 5.805.
Dari faktor global, pasar masih mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Meski demikian, kekhawatiran pasar mereda setelah adanya sinyal komunikasi antara kedua pihak, yang turut mendorong penurunan harga minyak dunia hingga hampir 3%.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). Saham-saham semikonduktor global kembali menguat setelah sebelumnya mengalami aksi ambil untung. Optimisme ini diperkuat oleh rencana Meta mengembangkan chip AI sendiri, tingginya minat terhadap IPO perusahaan teknologi, serta ekspansi investasi dari pelaku industri seperti Micron.
Kondisi ini turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, masih akan mempertahankan kebijakan wait and see terhadap suku bunga. Stabilitas kebijakan moneter ini menjadi katalis positif bagi pasar saham global, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia melaporkan penurunan jumlah emiten dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) menjadi 14 perusahaan. Hal ini dinilai sebagai sinyal perbaikan struktur kepemilikan saham dan peningkatan likuiditas pasar.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Proyeksi ini mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi nasional yang ditopang konsumsi domestik dan investasi.
Secara global, mayoritas bursa saham juga menunjukkan penguatan. Bursa AS Wall Street ditutup menguat signifikan, dengan indeks S&P 500 naik 2,18%, Nasdaq Composite melonjak 1,3%, dan Dow Jones menguat 0,3%. Bursa Asia pun bergerak positif, termasuk Nikkei Jepang yang melonjak 2,24% dan Hang Seng yang naik 1,65%.
Dengan kombinasi sentimen global yang mulai mereda dan optimisme terhadap sektor teknologi, IHSG berpotensi melanjutkan tren penguatan. Namun, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi arah pasar ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































