Hati-hati Pakai Nebulizer! Dokter Ungkap Risiko Efek Samping

3 hours ago 1

Hati-hati Pakai Nebulizer! Dokter Ungkap Risiko Efek Samping

Ilustrasi penggunaan nebulizer pada anak (ANTARA/HO)

Harianjogja.com, JAKARTA — Penggunaan nebulizer atau alat terapi inhalasi kini semakin umum di masyarakat, terutama untuk mengatasi gangguan pernapasan. Namun, dokter mengingatkan bahwa pemakaian yang tidak tepat justru berpotensi menimbulkan efek samping yang serius.

Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menegaskan bahwa kesalahan dalam penggunaan nebulizer dapat menyebabkan residu obat menyebar ke organ lain di luar saluran pernapasan.

“Residu obat yang tidak terhirup dengan benar bisa mengenai bagian tubuh lain dan menimbulkan efek samping, tergantung jenis obatnya,” ujarnya dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta, Kamis (2/7/2026)

Ia menjelaskan, beberapa jenis obat yang digunakan dalam terapi nebulisasi memiliki potensi risiko jika tidak digunakan dengan benar. Misalnya, obat yang mengandung steroid dapat memicu gangguan pada mata jika terkena paparan dalam jangka panjang.

“Jika terkena mata terus-menerus, steroid berisiko menyebabkan katarak. Sementara obat golongan antikolinergik dapat meningkatkan tekanan bola mata yang berpotensi memicu glaukoma,” jelasnya.

Nebulisasi sendiri merupakan metode pemberian obat dengan cara dihirup langsung ke saluran pernapasan. Obat cair diubah menjadi partikel halus (aerosol) menggunakan alat nebulizer sehingga dapat masuk langsung ke paru-paru.

Metode ini dikenal efektif karena bekerja langsung pada organ target, yaitu sistem respirasi. Namun, efektivitas tersebut hanya bisa dicapai jika penggunaan alat dan indikasinya tepat.

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menekankan pentingnya penggunaan alat berkualitas serta teknik yang benar untuk meminimalkan sisa obat yang tidak terhirup.

Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan di masyarakat yang kerap menggunakan nebulizer sebagai solusi untuk berbagai penyakit, tanpa mempertimbangkan indikasi medis yang tepat.

“Masih banyak anggapan bahwa semua gangguan pernapasan bisa diatasi dengan nebulizer, padahal tidak selalu demikian,” katanya.

Menurut Wahyuni, terapi inhalasi umumnya diperuntukkan bagi penyakit tertentu pada saluran pernapasan, seperti asma, bronkiolitis, dan croup laringitis yang ditandai dengan gejala sesak atau bunyi napas mengi.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan nebulizer secara sembarangan dan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum melakukan terapi inhalasi.

“Jika ada gangguan pernapasan, sebaiknya periksa ke dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai. Terapi inhalasi harus berdasarkan indikasi yang jelas,” tegasnya.

Edukasi yang tepat mengenai penggunaan nebulizer dinilai penting untuk mencegah risiko efek samping sekaligus memastikan terapi yang diberikan benar-benar efektif dan aman bagi pasien.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |