Pengunjung memilih melon yang hendak dibeli di dalam greenhouse yang dikembangkan BUMDes Maju Makmur Desa Ketitang, Kecamatan Juwiring, Rabu (8/4/2026). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
Harianjogja.com, KLATEN — Program wisata petik melon yang dikembangkan BUMDes Maju Makmur di Desa Ketitang, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, berhasil menarik antusiasme pengunjung dari berbagai daerah.
Kegiatan ini dibuka selama tiga hari, Senin hingga Rabu (6–8/4/2026). Namun, pengelola memastikan wisata tetap dilanjutkan apabila masih terdapat buah yang belum dipanen.
Pengunjung Bisa Petik Langsung
Konsep wisata ini memungkinkan pengunjung memilih dan memetik langsung buah melon dari tanaman di dalam greenhouse. Varietas yang dibudidayakan adalah The Blues melon, yang dikenal memiliki tekstur renyah dan rasa manis, dengan daging buah berwarna oranye.
Melon tersebut dipasarkan dengan harga Rp30.000 per kilogram.
Direktur BUMDes, Setyo Basuki, menjelaskan bahwa panen ini merupakan yang pertama sejak budidaya dimulai pada Februari 2026.
“Sejak hari pertama dibuka, hingga siang ini sekitar 80 persen sudah terjual,” ujarnya, Rabu.
Greenhouse berdiri di atas lahan kas desa berukuran 8 x 18 meter di tengah area persawahan. Sebanyak 500 tanaman melon dibudidayakan, dengan setiap pohon hanya dipertahankan satu buah hingga masa panen.
Bobot rata-rata melon berkisar 1,4–1,5 kilogram, dengan ukuran maksimal mencapai 1,9 kilogram.
Budidaya Semi Modern
Budidaya dilakukan secara semi modern. Penyiraman masih menggunakan metode manual agar kondisi tanaman dapat dipantau secara detail.
Media tanam yang digunakan berupa sekam bakar dan endapan tanah sungai, dengan wadah galon bekas yang telah dimodifikasi. Pembangunan greenhouse juga memanfaatkan material yang tersedia secara efisien.
Setyo mengakui pihaknya masih terus belajar untuk menyempurnakan pola budidaya agar hasil panen berikutnya lebih optimal.
Pengembangan greenhouse ini mendapat dukungan dari pemerintah desa dan kecamatan setempat. Ke depan, direncanakan penambahan unit greenhouse untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas potensi wisata.
Salah satu pengunjung, Rahayu Haniyah, mengaku tertarik datang bersama keluarga karena penasaran dengan konsep tersebut.
“Rasanya segar, ada krenyesnya. Semoga ke depan bisa diperluas dan waktu wisatanya lebih lama,” ujarnya.
Wisata petik melon ini dinilai menjadi alternatif agrowisata baru yang menjanjikan di wilayah Klaten.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id


















































