
Penampil ketoprak dari Kapanewon Sentolo, Kamis (24/6/2026) yang mengusung tema besar Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti. Harian Jogja/Khairul Ma'arif.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Festival Ketoprak Kulonprogo kembali menjadi bukti bahwa seni tradisi tetap hidup di tengah keterbatasan anggaran. Sebanyak 12 kapanewon ambil bagian dalam ajang yang digelar selama dua hari di Taman Budaya Kulonprogo untuk menjaga keberlangsungan budaya sekaligus menghidupkan ekosistem seni di Bumi Binangun.
Suasana Taman Budaya Kulonprogo pada Rabu (24/6/2026) malam dipenuhi antusiasme penonton yang menyaksikan penampilan kontingen dari Kapanewon Sentolo. Meski hanya mendapat waktu tampil selama 30 menit, para pemain mampu menghadirkan pertunjukan yang memikat melalui tata panggung sederhana dengan perpindahan properti yang lincah dan permainan peran yang memukau.
Di balik pertunjukan tersebut, geliat seni ketoprak di Kulonprogo menunjukkan daya tahannya meski pemerintah daerah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran. Ratusan pelaku seni tetap terlibat untuk memastikan ketoprak terus dikenal masyarakat dan tidak kehilangan ruang di tengah perkembangan zaman.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Joko Mursito, mengatakan ketoprak bukan sekadar pertunjukan di atas panggung, melainkan sebuah ekosistem yang menghidupi banyak profesi sekaligus menjadi media pelestarian budaya.
"Bicara ketoprak ini ikutannya banyak banget," ujar Joko kepada wartawan, Kamis (25/6/2026).
Menurut Joko, setiap pementasan melibatkan banyak pihak, mulai dari perias, perajin kostum, pengrawit, hingga pembuat properti yang memanfaatkan berbagai bahan sederhana menjadi perlengkapan pertunjukan. Seluruh unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional.
Ia menilai ketoprak juga memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui proses latihan hingga pementasan, generasi muda belajar tentang disiplin, gotong royong, saling menghormati, serta memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Di tengah keterbatasan anggaran pada 2026, Dinas Kebudayaan Kulonprogo memilih tetap mempertahankan penyelenggaraan festival. Efisiensi justru dimaknai sebagai dorongan untuk lebih kreatif dalam menentukan program yang benar-benar menjadi kebutuhan utama masyarakat.
"Efisiensi kami maknai sebagai sesuatu yang lazim, yang biasa," tutur Joko.
Ia menjelaskan, keterbatasan anggaran mendorong lahirnya berbagai inovasi sehingga program kebudayaan tetap berjalan tanpa mengurangi manfaat bagi masyarakat.
Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memperluas manfaat bagi pelaku seni dan masyarakat di wilayah yang membutuhkan. Di tengah kondisi anggaran yang terbatas, dukungan tetap diprioritaskan kepada seniman, budayawan, dan komunitas budaya di daerah-daerah dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Dengan cara itu, seni tidak hanya menjadi media pelestarian budaya, tetapi juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, yang hadir menyaksikan pertunjukan, menilai seni budaya mencerminkan karakter suatu daerah. Menurutnya, masyarakat yang mampu menjaga tradisi akan memiliki penghormatan yang lebih kuat terhadap sejarah dan warisan leluhurnya.
"Sebetulnya yang namanya seni budaya ini kan menunjukkan gambaran tentang karakter dari satu daerah," kata Agung usai menyaksikan salah satu pertunjukan.
"Bisa melestarikan seni budaya, tentunya dia akan sangat lebih respek, lebih hormat kepada para leluhurnya, karena dapat nguri-uri (melestarikan) budaya yang diwariskan kepadanya," imbuhnya.
Festival Ketoprak Kulonprogo tahun ini diikuti seluruh 12 kapanewon di Kabupaten Kulonprogo dan berlangsung selama dua hari, yakni Rabu (24/6/2026) hingga Kamis (25/6/2026). Kegiatan yang didanai melalui Dana Keistimewaan DIY tersebut mengangkat tema besar Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti, sekaligus menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk terus menjaga eksistensi ketoprak sebagai warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Khairul Ma'arif Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































