Euforia AI Berakhir, Pasar Saham China Anjlok 15 Persen

5 hours ago 5

Jumali

Jumali Selasa, 30 Juni 2026 18:57 WIB

Euforia AI Berakhir, Pasar Saham China Anjlok 15 Persen

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Harapan besar terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sempat mendongkrak pasar saham China pada tahun lalu kini berbalik menjadi tekanan berat. Sepanjang 2026, Indeks MSCI China tercatat anjlok hingga 15 persen, menjadikannya salah satu indeks dengan performa terburuk di dunia setelah Indonesia.

Pekan lalu, posisi indeks tersebut terhadap MSCI World Index bahkan menyentuh level terendah sejak periode pasca-serangan 11 September 2001. Penurunan tajam ini terutama dipicu oleh rontoknya dua raksasa teknologi, Tencent dan Alibaba, yang masing-masing telah kehilangan nilai pasar lebih dari 29 persen. Koreksi ini menghapus kapitalisasi pasar gabungan hingga 337 miliar dollar AS.

Kondisi ini mengejutkan banyak pihak, mengingat pada awal tahun Goldman Sachs sempat memprediksi MSCI China akan tumbuh 20 persen. Lombard Odier bahkan sempat menaikkan rekomendasi saham China menjadi preferred dengan ekspektasi perbaikan laba emiten.

Banyak investor sebelumnya meyakini bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, pasar saham China akan keluar dari pola fluktuasi ekstrem menuju fase pertumbuhan stabil. Namun, realita berkata lain. Di saat pasar saham negara tetangga seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mencatat reli kenaikan 17 persen hingga 99 persen, China justru tertinggal jauh.

Chief Investment Officer Reed Capital, Gerald Gan, mengakui bahwa saham China menjadi beban terbesar dalam portofolionya tahun ini. "Saham China menjadi salah satu penyumbang kinerja terburuk. Kami memiliki Tencent dan Alibaba, tetapi performanya sangat mengecewakan," ujar Gerald Gan, dikutip dari Bloomberg, Selasa (30/6/2026).

Faktor Penyebab Pelemahan

Penurunan ini dipicu oleh pelemahan belanja konsumen domestik yang menekan keuntungan perusahaan internet dan otomotif. Selain itu, tren investasi global saat ini lebih condong ke perusahaan pembuat chip daripada perusahaan teknologi berbasis layanan (hyperscaler). Hal ini menjadi titik lemah China yang masih minim produsen perangkat keras semikonduktor kelas dunia.

Pemerintah Beijing juga memperketat pengawasan arus modal lintas negara, termasuk investasi di Hong Kong, yang kembali memicu kekhawatiran investor terhadap risiko regulasi. Situasi ini sangat kontras dengan tahun lalu ketika terobosan AI melalui DeepSeek sempat menarik minat investor asing.

CEO GAO Capital Pte, Chauwei Yak, turut menyatakan kekecewaannya. "Saya cukup sedih memiliki Alibaba di portofolio saya. Yang lebih menyedihkan, satu-satunya negara yang kinerjanya lebih buruk hanyalah Indonesia," ungkapnya. Menurutnya, kemajuan teknologi China pada akhirnya hanya mampu mengungguli negara dengan tingkat teknologi lebih rendah.

Risiko Kepercayaan Investor

Pelemahan ini berisiko menggerus kepercayaan investor global, meskipun perusahaan besar seperti Tencent berencana menggandakan belanja modal AI menjadi 36 miliar yuan pada 2026. Alibaba juga berkomitmen menginvestasikan 380 miliar yuan dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, pasar saham domestik di Shanghai dan Shenzhen (Indeks CSI 300) relatif lebih kuat dengan kenaikan sekitar 6 persen, ditopang oleh sektor perangkat keras teknologi. Namun, sektor konsumsi di indeks tersebut tetap anjlok lebih dari 20 persen.

Kevin Net dari Financière de l’Echiquier menyatakan lebih memilih saham domestik karena fokus pada tema AI dan industri, sementara pasar luar negeri didominasi sektor konsumsi dan teknologi non-AI yang ia hindari.

Dampak Ekonomi Domestik

Tekanan pasar saham ini sejalan dengan memburuknya ekonomi domestik China. Penjualan ritel turun untuk pertama kalinya sejak pandemi, harga rumah terus merosot, dan investasi aset tetap menyusut.

Kepala Ekonom China Macquarie Group, Larry Hu, memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal II hanya sekitar 4,4 persen, di bawah target pemerintah. Tanpa stimulus besar untuk mendorong konsumsi rumah tangga, permintaan dalam negeri diprediksi akan tetap lemah meskipun ekspor chip dan komputer masih bertahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |