Erupsi Panjang Anak Krakatau Berakhir, Potensi Susulan Masih Tinggi

7 hours ago 6

Newswire

Newswire Senin, 07 September 2026 10:17 WIB

Erupsi Panjang Anak Krakatau Berakhir, Potensi Susulan Masih Tinggi

Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang berlangsung selama 25 jam telah berakhir. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat aktivitas gunung api tersebut kini kembali menunjukkan karakteristik erupsi strombolian.

Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang diterima di Jakarta, Senin, menyampaikan episode erupsi menerus tersebut dimulai pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.

"Pasca-berakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian," kata Lana.

Aktivitas Erupsi Menerus Telah Berakhir

Badan Geologi menginterpretasikan kembalinya karakteristik erupsi strombolian sebagai penanda bahwa fase letusan terus menerus berdurasi panjang telah berakhir.

Meski demikian, tingkat probabilitas terjadinya letusan susulan pada periode berikutnya masih dinilai tinggi.

Berdasarkan pengamatan instrumental pada periode 6-7 September 2026, Badan Geologi mencatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid/fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.

Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau setelah berakhirnya episode erupsi menerus.

RSAM Mulai Menunjukkan Tren Penurunan

Selain aktivitas kegempaan, Badan Geologi juga memantau grafik perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement).

Grafik RSAM yang sempat melonjak pada 5 September 2026 kini menunjukkan tren penurunan sejak 6 September 2026.

Sementara itu, data deformasi tiltmeter Stasiun Tanjung mencatat indikasi inflasi tipis sejak awal Agustus 2026. Adapun Stasiun Lava93 menunjukkan pola konstan.

Gunung Anak Krakatau Masih Level III Siaga

Berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan aktivitas tersebut, Badan Geologi masih menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Kondisi itu membuat rekomendasi keselamatan bagi masyarakat dan pengunjung tetap diberlakukan.

Lana merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif.

Larangan tersebut diberlakukan untuk menghindari ancaman lontaran batu pijar, awan panas, aliran lava, serta hujan abu lebat.

Warga Banten dan Lampung Diminta Tetap Tenang

Badan Geologi juga mengimbau warga pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diminta tidak mempercayai isu hoaks terkait potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Selain itu, warga dianjurkan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |