Mbah Samsudin dan Mbah Tukul saat mengupas singkong di tempat produksinya. Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL—Aroma manis tape singkong masih setia mengepul dari dapur sederhana di Guwosari, di Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Di tempat itulah, Mbah Samsudin (64) dan istrinya, Mbah Tukul (62), menjaga usaha turun-temurun yang telah bertahan hampir 40 tahun.
Di tengah gempuran makanan modern, tape singkong buatan pasangan ini tetap diminati. Produksi harian yang mencapai 70 hingga 80 kilogram selalu terserap pasar, terutama oleh pedagang yang mengolahnya kembali menjadi berbagai produk seperti roti tape dan jajanan lainnya.
Usaha ini berawal pada 1986, saat mertua Mbah Samsudin mencoba mengolah singkong melimpah di tengah keterbatasan ekonomi. Dari situ, tape singkong menjadi jalan bertahan hidup yang terus diwariskan hingga kini.
“Awalnya bapak [mertua] itu nganggur, singkong banyak, tapi enggak punya pekerjaan tetap,” kenang Mbah Samsusin.
Proses produksi tape yang dijalani pun tidak singkat. Singkong pilihan dikupas, dipotong, lalu direbus setengah matang. Setelah didiamkan semalaman, singkong kembali direbus sebelum ditiriskan, didinginkan, dan diberi ragi untuk proses fermentasi.
“Singkong ditiriskan, didinginkan, kemudian diberi ragi. Dari awal sampai jadi itu empat hari,” ujar Mbah Samsudin.
Kesabaran menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas rasa. Bahkan, cuaca turut memengaruhi hasil produksi. Hujan sering kali menjadi tantangan karena dapat mengganggu proses fermentasi hingga berisiko gagal.
“Kalau suasana enggak baik atau cuaca buruk, kadang tidak jadi. Hujan itu bisa bikin gagal produksi kami,” katanya.
Kendala lain datang dari pasokan bahan baku. Saat musim hujan, singkong kuning yang menjadi bahan utama kerap sulit didapat. Kondisi ini memaksa Mbah Samsudin mencari bahan hingga ke berbagai pasar tradisional.
“Kalau mulai hujan pertama itu biasanya singkongnya habis. Di mana-mana susah, itu tadi hujan adalah kendala tapi mau gimana lagi namanya juga cuaca,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, tape singkong tersebut dijual sekitar Rp10.000 per kilogram dengan keuntungan bersih yang bisa mencapai Rp500.000 per hari. Mbah Samsudin menangani proses produksi, sementara Mbah Tukul membantu menyiapkan bahan hingga melayani pembeli.
Kerja sama keduanya terjalin secara alami, seiring puluhan tahun mengelola usaha bersama. Meski usia tak lagi muda, semangat mereka tetap terjaga untuk mempertahankan warisan keluarga.
Bagi pasangan ini, tape singkong bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































