El Nino Menguat, Kulonprogo Antisipasi Krisis Air Bersih

2 hours ago 1

El Nino Menguat, Kulonprogo Antisipasi Krisis Air Bersih

Kekeringan - Ilustrasi StockCake

Harianjogja.com, KULONPROGO—Ancaman kekeringan mulai membayangi sejumlah wilayah di Kabupaten Kulonprogo seiring berlangsungnya musim kemarau dan prediksi dampak fenomena El Nino sepanjang 2026. Pemerintah daerah kini menyiapkan berbagai langkah darurat untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi apabila kondisi semakin memburuk.

Wilayah perbukitan menjadi salah satu kawasan yang mulai dipantau secara intensif setelah muncul laporan potensi kekurangan air bersih. BPBD Kulonprogo bahkan telah menerima informasi mengenai kemungkinan kebutuhan penyaluran air bersih di sejumlah titik, termasuk di Kalurahan Sonyo, Kapanewon Girimulyo.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Eko Susanto, mengatakan dampak El Nino tidak hanya berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat hingga sektor pangan.

"Dari sisi kebutuhan pribadi untuk air bersih, maupun dari sisi penyediaan pangan, ketersediaan bahan baku pangan, kemudian akan banyak mempengaruhi terhadap aktivitas warga," kata Eko saat dikonfirmasi, Rabu (1/7/2026).

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kulonprogo telah mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan kekeringan. Sebanyak 20 tangki air bersih disiapkan untuk mendukung distribusi air kepada masyarakat yang terdampak selama musim kemarau tahun ini.

"Terkait dengan dampak dari kekeringan terhadap ketersediaan air dan permintaan dropping, itu kemarin sudah ada pemberitahuan potensi yaitu di Sonyo, Girimulyo," ungkapnya.

Selain cadangan air, pemerintah daerah juga menyiagakan armada distribusi agar respons terhadap kebutuhan masyarakat dapat dilakukan lebih cepat. Total terdapat empat armada pengangkut air yang siap beroperasi, terdiri atas dua unit milik BPBD Kulonprogo, satu unit milik PMI, dan satu unit milik Dinas Sosial.

Eko menegaskan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak akan mengurangi pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat.

"Itu tidak menjadikan suatu masalah bahwasanya memang tetap pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan ataupun pada masyarakat yang terdampak itu harus menjadi prioritas utama," tegasnya.

Selain kebutuhan rumah tangga, sektor pertanian juga menjadi perhatian utama karena berpotensi terdampak penurunan pasokan air. Risiko gagal panen menjadi salah satu ancaman yang diwaspadai apabila kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Untuk mengurangi risiko tersebut, organisasi perangkat daerah terkait telah mulai mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air sesuai jadwal pola tanam yang telah disusun bersama petani.

Petani juga diimbau menyesuaikan pola tanam dan mempertimbangkan komoditas yang membutuhkan air lebih sedikit apabila debit air terus menurun dalam beberapa bulan ke depan.

Guna memperkuat kesiapsiagaan, BPBD Kulonprogo akan menggelar rapat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan pada pekan depan. Pertemuan tersebut bertujuan memetakan wilayah rawan, kebutuhan logistik, serta langkah mitigasi yang perlu dilakukan secara bersama-sama.

"Kami merencanakan untuk di minggu depan mengadakan rapat koordinasi, menghimpun semua stakeholder, semua pemangku wilayah untuk berkoordinasi secara daring, menyampaikan kerawanan-kerawanan apa di wilayahnya masing-masing, potensi-potensinya seperti apa," jelas Eko.

Apabila kekeringan berkembang menjadi kondisi yang lebih luas, Pemkab Kulonprogo juga membuka kemungkinan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk mengkaji opsi operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan.

Di luar langkah darurat, pemerintah daerah tetap mengandalkan sejumlah infrastruktur konservasi air yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir. Sarana tersebut meliputi embung buatan, tampungan air hujan di kawasan Perbukitan Menoreh, serta perlindungan sumber mata air yang dikelola lintas instansi.

Upaya penghijauan melalui penanaman pohon dan pelestarian kawasan hulu juga terus dilakukan guna menjaga keberlanjutan sumber air alami yang menjadi penopang kebutuhan masyarakat saat musim kemarau.

Eko turut mengingatkan masyarakat agar menjaga kondisi kesehatan selama cuaca kering berlangsung. Warga diminta memperbanyak konsumsi air minum untuk mencegah dehidrasi serta membatasi paparan sinar matahari langsung ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |