Ekspor DIY Tumbuh 8,74 Persen, Pemda Bidik Australia dan China

8 hours ago 6

Ekspor DIY Tumbuh 8,74 Persen, Pemda Bidik Australia dan China

Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Nilai ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 352,58 juta dolar AS atau tumbuh 8,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah Amerika Serikat (AS) yang masih menjadi pasar utama, Pemda DIY mendorong perluasan pasar ekspor ke Australia dan China.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat nilai ekspor pada Juli 2026 mencapai 50,64 juta dolar AS. Angka tersebut naik 6,32% dibandingkan Juni 2026, tetapi turun 6,24% jika dibandingkan dengan Juli 2025.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Anton Raharja, mengatakan pertumbuhan secara kumulatif menunjukkan ekspor DIY secara tahunan mengalami kenaikan.

Menurutnya, penurunan nilai ekspor pada Juli 2026 dibandingkan Juli 2025 tidak dapat dilepaskan dari karakteristik penghitungan bulanan. Waktu pengiriman, jadwal kapal, hingga jumlah permintaan yang dikirim pada bulan tertentu dapat memengaruhi nilai ekspor.

"Secara kumulatif pertumbuhan ekspor DIY dipengaruhi masih stabilnya permintaan buyer karena daya saing produk DIY yang bagus," ujarnya, Sabtu (19/9/2026).

Produk DIY Masih Punya Daya Saing

Anton menjelaskan pelaku ekspor DIY masih mampu memenuhi permintaan dengan volume yang diharapkan. Selain itu, kualitas produk disebut tetap sesuai spesifikasi dan harga yang ditawarkan bersaing.

Daya saing tersebut juga didukung pemanfaatan SKA (Surat Keterangan Asal) dan DAB (Deklarasi Asal Barang untuk tujuan Eropa) yang diterbitkan oleh Disperindag DIY.

"Sangat membantu untuk meningkatkan daya saing produk ketika harus bertarung dengan produk sejenis dari negara lain," jelasnya.

Di sisi lain, pasar AS hingga kini masih menjadi tujuan utama produk asal DIY. Namun, Anton mengatakan terdapat peluang untuk memperluas pasar seiring adanya informasi ekspor dan perjanjian antarnegara, termasuk dengan Australia.

Australia dan China Jadi Bidikan Baru

Anton mengatakan ekspor DIY ke Australia juga mengalami peningkatan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemda DIY terus menggarap pasar Australia.

"Dan tentunya DIY akan terus menggarap pasar Australia dan semoga bisa kedepan untuk terus meningkatkan pasar ke China," ucapnya.

Upaya membuka pasar baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Anton mengatakan tantangan terutama muncul ketika produk DIY masuk ke negara yang belum memiliki perjanjian dengan Indonesia.

Salah satunya berkaitan dengan preferensi tarif. Jika belum ada preferensi tarif, harga produk berpotensi kurang bersaing di pasar tujuan.

Pelaku usaha juga perlu menyesuaikan dan mengadaptasi produk dengan standar yang berlaku di negara tujuan baru. Selain itu, terdapat tantangan berupa harga yang lebih rendah dibandingkan pasar AS dan Eropa serta biaya pengiriman yang lebih mahal jika negara tujuan berada lebih jauh.

"Atau bahkan terkait keamanan pembayaran jika negara tersebut belum memiliki bank yang bisa bermitra dengan Indonesia," lanjutnya.

AS Kuasai 45,79% Ekspor DIY

Sebelumnya, Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan AS masih menjadi negara tujuan utama ekspor DIY.

Pada Juli 2026, nilai ekspor DIY ke AS mencapai 23,19 juta dolar AS. Nilai tersebut setara dengan sekitar 45,79% dari total ekspor DIY pada Juli 2026.

"Ditinjau menurut golongan barang, ekspor DIY masih didominasi oleh pakaian bukan rajutan dan aksesorinya, pakaian rajutan dan aksesorisnya, serta barang dari kulit samak," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |