Ekspor DIY Tembus 47,47 Juta Dolar, Industri Pengolahan Paling Dominan

15 hours ago 3

Ekspor DIY Tembus 47,47 Juta Dolar, Industri Pengolahan Paling Dominan

Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kinerja perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren positif di tengah dinamika ekonomi global. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat nilai ekspor pada Mei 2026 mencapai 47,47 juta dolar AS atau tumbuh 1,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Kenaikan ini masih ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung ekspor DIY. Sektor tersebut menyumbang hampir seluruh nilai ekspor, yakni sebesar 99,24%, dengan pertumbuhan mencapai 0,85% secara tahunan.

Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa komoditas unggulan yang mendominasi ekspor DIY pada Mei 2026 berasal dari produk tekstil dan turunannya. Pakaian dan aksesoris bukan rajutan menjadi penyumbang terbesar dengan pangsa 34,96%, meski mengalami penurunan 11,38% yoy. Sementara itu, pakaian rajutan justru mencatat lonjakan signifikan sebesar 62,41% yoy dengan kontribusi 16,91%. Adapun kelompok perabotan, lampu, dan alat penerangan menyumbang 8,50%, namun mengalami kontraksi 14,24%.

Secara kumulatif, kinerja ekspor DIY sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 254,30 juta dolar AS. Angka ini tumbuh cukup kuat sebesar 14,09% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 222,89 juta dolar AS. Pertumbuhan ini kembali didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi lebih dari 99%.

Dari sisi pasar, Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor DIY, disusul Australia dan Jerman. Ketiga negara ini menguasai pangsa pasar hingga 64,72% dari total ekspor DIY.

Di sisi lain, nilai impor DIY pada Mei 2026 tercatat sebesar 16,49 juta dolar AS, meningkat signifikan 36,77% yoy. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya impor bahan baku dan penolong yang tumbuh hingga 42,88%. Kelompok ini mendominasi impor dengan kontribusi 91,46%.

Komoditas impor utama meliputi kain rajutan (22,23%), kereta api dan bagiannya (20,78%), serta filamen buatan (7,49%). Meski demikian, secara kumulatif Januari–Mei 2026, impor DIY justru turun 13,38% menjadi 67,21 juta dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya.

Menariknya, neraca perdagangan DIY masih mencatatkan kinerja positif. Pada Mei 2026, surplus perdagangan mencapai 30,97 juta dolar AS. Secara kumulatif, surplus juga meningkat seiring pertumbuhan ekspor yang melampaui penurunan impor.

Komoditas pakaian jadi, baik rajutan maupun non-rajutan, menjadi penyumbang utama surplus terutama untuk pasar Amerika Serikat, Australia, dan Jerman. Sebaliknya, impor kain rajutan menjadi penyumbang defisit terbesar dalam struktur perdagangan.

BPS DIY menilai capaian ini sebagai sinyal positif bagi perekonomian daerah. Surplus yang terus terjaga menunjukkan daya saing ekspor DIY masih kuat di tengah tantangan global. Ke depan, pemantauan rutin terhadap kinerja ekspor-impor akan menjadi dasar penting bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam menyusun strategi ekonomi yang lebih adaptif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |