Eksperimen AI Ford Gagal Total, Ratusan Ahli Lama Direkrut Kembali

7 hours ago 3

Jumali

Jumali Senin, 29 Juni 2026 18:27 WIB

Eksperimen AI Ford Gagal Total, Ratusan Ahli Lama Direkrut Kembali

Ilustrasi mobil Ford/Ford.co.uk

Harianjogja.com, JOGJA— Raksasa otomotif asal Amerika Serikat, Ford Motor Company, mengakui adanya kesalahan strategis dalam penerapan kecerdasan buatan (AI) di lini produksi dan pengembangan kendaraan. Perusahaan kini mengambil langkah korektif dengan kembali merekrut ratusan insinyur berpengalaman setelah sistem otomatis berbasis AI dinilai belum mampu menjaga standar kualitas produk secara konsisten.

Pengakuan ini menandai perubahan arah penting dalam strategi digital Ford, yang sebelumnya mendorong otomatisasi luas pada proses desain hingga kontrol mutu. Namun dalam praktiknya, AI dinilai belum memiliki kemampuan memahami konteks teknis dan “pengalaman lapangan” yang selama ini menjadi kekuatan utama para insinyur senior.

Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon, menegaskan bahwa perusahaan sempat terlalu optimistis terhadap kemampuan AI dalam menggantikan proses rekayasa manusia.

“Kami salah mengira. Kami pikir dengan memasukkan persyaratan desain ke dalam AI, itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Namun ternyata kami salah,” ujar Poon, dikutip dari TechCrunch.

Menurutnya, masalah utama bukan pada teknologi AI itu sendiri, melainkan pada keterbatasan data dan hilangnya pengetahuan praktis akibat berkurangnya tenaga insinyur berpengalaman. Kondisi tersebut membuat sistem otomatis kesulitan mendeteksi potensi kegagalan teknis sejak tahap awal pengembangan.

Chief Operating Officer Ford, Kumar Galhotra, turut mengakui bahwa ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis justru menurunkan efektivitas pengawasan kualitas. Akibatnya, sejumlah masalah teknis baru terdeteksi ketika produk sudah mendekati tahap produksi massal, yang berisiko meningkatkan biaya perbaikan dan penarikan produk.

Sebagai respons, Ford kini kembali mengandalkan insinyur senior yang dijuluki “gray beard” untuk memperkuat proses evaluasi teknis. Para tenaga ahli ini berperan mengidentifikasi potensi cacat desain lebih awal sebelum masuk ke lini produksi.

Langkah korektif tersebut mulai menunjukkan dampak positif. CEO Ford, Jim Farley, menyebut strategi kombinasi manusia dan teknologi itu berhasil menurunkan biaya garansi serta jumlah penarikan produk (recall). Selain itu, Ford juga mencatat peningkatan dalam Initial Quality Survey dari JD Power untuk pertama kalinya dalam 16 tahun terakhir. Perusahaan menargetkan efisiensi biaya hingga US$1 miliar dalam tahun berjalan.

Fenomena serupa juga terjadi di industri lain. Perusahaan teknologi finansial asal Swedia, Klarna, sebelumnya sempat melakukan restrukturisasi besar dengan menggantikan ratusan pekerja layanan pelanggan menggunakan chatbot berbasis AI. Meski teknologi tersebut mampu mempercepat waktu respons layanan, perusahaan kemudian menyadari bahwa pengalaman pelanggan tidak sepenuhnya dapat diukur dari kecepatan semata.

Klarna akhirnya kembali membuka sejumlah posisi kerja baru untuk menyeimbangkan peran otomatisasi dan tenaga manusia, setelah menemukan bahwa kualitas interaksi tetap membutuhkan sentuhan empati dan penilaian kontekstual.

Baik Ford maupun Klarna kini menegaskan bahwa AI tidak ditinggalkan, melainkan diposisikan ulang sebagai alat bantu. Teknologi tersebut tetap digunakan untuk mempercepat proses dan analisis, namun keputusan akhir dan pengawasan kritis tetap melibatkan manusia.

Koreksi strategi ini menjadi sinyal bahwa adopsi AI di industri besar tidak selalu berjalan mulus. Efisiensi teknologi ternyata masih harus diseimbangkan dengan pengalaman, intuisi, dan pengetahuan praktis manusia agar kualitas tetap terjaga di tengah percepatan otomatisasi industri global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |