Dosen UKDW Ajak Teguhkan Iman di Forum AEYA 2026

4 hours ago 3

Dosen UKDW Ajak Teguhkan Iman di Forum AEYA 2026 Dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Pdt. Jeniffer Fresy P. Wowor, Ph.D.,

JOGJA—Dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Jeniffer Fresy P. Wowor, tampil sebagai pembicara dalam forum internasional Asian Ecumenical Youth Assembly 2026 yang digelar pada 17–22 April 2026 di Thailand. Dalam forum tersebut, ia mengajak generasi muda Kristen Asia untuk meneguhkan identitas diri di tengah derasnya arus digitalisasi.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Christian Conference of Asia ini mempertemukan pemuda lintas negara untuk berdiskusi dan merespons berbagai isu, mulai dari sosial, kemanusiaan hingga perkembangan teknologi digital yang semakin kompleks.

Dalam pemaparannya, Jeniffer mengangkat tema “Break Every Yoke: When Faith Under the Yoke, Affirm Identity in Christ”. Ia menghadirkan perspektif teologis yang menekankan pentingnya iman sebagai landasan dalam menghadapi perubahan zaman yang serba cepat.

Menurutnya, pesan Nabi Yesaya tentang “melepaskan segala kuk” tidak hanya berbicara soal spiritualitas personal, tetapi juga menyangkut transformasi sosial yang lebih luas. Nilai tersebut, kata dia, relevan untuk menjawab tantangan kehidupan modern, terutama dalam membangun relasi yang sehat di tengah masyarakat.

Ia juga menyoroti praktik keagamaan seperti puasa dan Sabat dalam Yesaya 58 yang perlu dimaknai secara kontekstual. Praktik tersebut tidak hanya sebatas ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa keadilan sosial, kepedulian, dan iman yang hidup dalam keseharian.

Di era digital, Jeniffer melihat tantangan besar bagi generasi muda dalam membentuk identitas diri. Media sosial kerap menjadi ruang utama untuk menampilkan diri, namun tidak selalu mencerminkan relasi yang autentik.

Sebagai solusi, ia memperkenalkan konsep “place sharing”, yakni pendekatan yang meneladani cara Yesus hadir secara nyata dalam kehidupan orang lain. Konsep ini menekankan pentingnya kehadiran yang tulus, relasi mendalam, serta kepedulian yang konkret sebagai penyeimbang kehidupan digital yang cenderung dangkal.

“Identitas dalam Kristus tidak ditentukan oleh seberapa terlihat seseorang di dunia digital, tetapi oleh relasi yang jujur, penuh kepedulian, dan saling mendukung,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak pemuda Kristen Asia menerapkan tiga praktik utama, yakni refleksi, kepedulian, dan transformasi. Refleksi dapat dilakukan melalui doa, meditasi, hingga puasa digital untuk memperdalam kepekaan spiritual. Kepedulian diwujudkan dengan menerima diri sekaligus membangun empati terhadap sesama. Sementara transformasi dilakukan melalui keterlibatan aktif dalam menjawab persoalan sosial, baik di tingkat lokal maupun global.

Ia menegaskan, ketiga aspek tersebut saling terhubung dan menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang utuh. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan mampu keluar dari sikap individualistik dan berperan aktif dalam menciptakan perubahan.

Kehadiran Jeniffer dalam forum internasional ini sekaligus menegaskan kontribusi UKDW dalam percakapan teologis global, serta menunjukkan peran akademisi Indonesia dalam merespons dinamika iman di era digital. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |