Dinpar Jogja Genjot 45 Kampung Wisata Naik Kelas

3 hours ago 1

Dinpar Jogja Genjot 45 Kampung Wisata Naik Kelas Kompleks Makam Kota Gede di Kampung Wisata Purbayan. (Instagram - @kamwispurbayan)

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Pariwisata Kota Jogja terus memperkuat pengembangan kampung wisata dengan melakukan pendampingan intensif di berbagai wilayah. Langkah ini ditujukan agar seluruh kampung wisata siap menyambut lonjakan kunjungan wisatawan pada akhir 2026.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Jogja, M. Zandaru Budi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 45 kampung wisata yang tersebar di seluruh kota. Namun, tidak semuanya aktif menggelar paket wisata secara rutin.

Dari jumlah tersebut, sekitar 25 merupakan kampung wisata lama, dan hanya 17 yang telah beroperasi aktif. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mempercepat proses pembinaan agar kampung wisata lainnya bisa segera berkembang.

Dorong Naik Kelas Bertahap

Zandaru menjelaskan, pengembangan kampung wisata dilakukan melalui tahapan berjenjang, mulai dari rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri. Skema ini disusun agar setiap kampung memiliki arah pengembangan yang jelas.

Sebagai acuan, pemerintah menjadikan Desa Wisata Penglipuran sebagai model pengembangan. Desa tersebut dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia dengan tata kelola yang tertata rapi.

“Kalau kampung wisata di Jogja bisa mencapai 20 hingga 30 persen dari standar Penglipuran, itu sudah sangat baik,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Beberapa kampung wisata di Jogja bahkan telah mencapai kategori maju hingga mandiri, di antaranya kawasan Bendung Lepeh di Rejowinangun, Purbayan, serta Cokrodiningratan.

Fokus pada SDM dan Paket Wisata

Menurut Zandaru, kendala utama yang dihadapi kampung wisata bukan terletak pada minimnya potensi, melainkan pada pengelolaan dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Banyak kampung sebenarnya memiliki aktivitas menarik, namun belum dikemas menjadi paket wisata yang menjual.

Untuk mengatasi hal tersebut, Dinpar menurunkan tenaga ahli guna mendampingi pengelola kampung wisata secara langsung, mulai dari perencanaan hingga pemasaran.

“Kegiatan sebenarnya sudah ada, tapi belum terstruktur. Ini yang kami bantu agar lebih menarik bagi wisatawan,” jelasnya.

Sebar Destinasi, Kurangi Penumpukan

Selain meningkatkan kualitas kampung wisata, pemerintah juga berupaya mendistribusikan arus wisatawan agar tidak terpusat di kawasan populer seperti Malioboro, Tugu Jogja, dan Keraton Yogyakarta.

Sebagai alternatif, sejumlah kawasan lain mulai dipromosikan. Kawasan Kotabaru dikembangkan dengan konsep wisata berbasis arsitektur kolonial Indis dan event kreatif, sementara Kotagede difokuskan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya peninggalan Mataram Islam.

Optimistis Dongkrak Ekonomi Warga

Melalui strategi pendampingan yang berkelanjutan, Dinpar optimistis kampung wisata di Jogja dapat tumbuh lebih merata. Pemerintah berharap, penguatan sektor ini mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

Dengan semakin banyaknya kampung wisata yang aktif dan terkelola profesional, Jogja diharapkan tidak hanya dikenal melalui destinasi ikoniknya, tetapi juga melalui pengalaman wisata berbasis komunitas yang autentik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |