Dari Dapur Jamu hingga Kain Alami, Pengalaman Ini Diburu Wisatawan

4 hours ago 1

Dari Dapur Jamu hingga Kain Alami, Pengalaman Ini Diburu Wisatawan

Retno Puji Astuti, pemilik D'Jamu Oasis./ Ist

JOGJA—Minat wisatawan terhadap pengalaman yang lebih personal dan bermakna terus meningkat. Tak lagi sekadar menikmati fasilitas menginap, banyak tamu kini mencari aktivitas yang memberi nilai edukasi, kesehatan, sekaligus kedekatan dengan budaya lokal.

Fenomena tersebut mendorong hadirnya berbagai aktivitas berbasis wellness yang melibatkan pelaku UMKM dan artisan lokal. Mulai dari meracik jamu berbahan empon-empon hingga membuat motif kain dengan teknik alami, wisatawan diajak merasakan langsung proses yang selama ini lekat dengan kearifan lokal.

Salah satu pelaku usaha yang terlibat dalam aktivitas tersebut adalah Retno Puji Astuti, pemilik D'Jamu Oasis. Dalam kelas pembuatan jamu yang digelar di Garrya Bianti Yogyakarta, ia memperkenalkan cara pengolahan tanaman herbal dengan pendekatan yang lebih modern.Retno yang pernah bekerja di bidang farmasi menjelaskan terdapat dua metode utama dalam pembuatan jamu.

Pengolahan jamu terbagi menjadi dua, yakni jamu dimasak dan jamu peras. Jamu peras memiliki rasa dan aroma lebih kuat karena tidak melalui pemanasan lama, tetapi tidak tahan lama dan harus segera dikonsumsi karena mudah mengalami oksidasi. "Kalau jamu dibuat pagi hari, sore hari harus sudah habis," katanya saat ditemui di Garrya Bianti Yogyakarta, Senin (23/6/2026).

Penjelasan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari demonstrasi pembuatan jamu, tetapi juga sarana edukasi bagi para tamu mengenai manfaat serta karakteristik tanaman herbal yang digunakan sehari-hari.

Retno menilai kolaborasi tersebut turut membantu memperluas penyebaran pengetahuan mengenai jamu kepada masyarakat. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kualitas bahan baku dalam setiap produk yang dihasilkan.
Selain kelas jamu, wisatawan juga dapat mengikuti aktivitas ecopounding yang memanfaatkan daun dan bunga sebagai bahan pembentuk motif alami pada kain.

Artisan lokal sekaligus pemilik jenama Pupos Wikaning, Septa Tri Wikaning Tami, mengatakan ketertarikannya terhadap teknik tersebut berawal dari hobi membuat ecoprint.

Saya awalnya hobi ecoprint lalu berkembang ke jenis lain, seperti ecopounding, teraprint, dan batik rupa semesta, katanya.

Dalam teknik ecopounding, daun dan bunga ditempelkan pada kain kemudian dipukul menggunakan alat khusus dari kayu hingga menghasilkan motif alami sesuai bentuk material yang digunakan. Selain ramah lingkungan, limbah sisa bahan juga dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik.
Saya sampaikan juga bahwa penggunaan bahan-bahan alami itu memang punya kendala pada ketahanan warna pada kain, bisa pudar kalau terkena unsur-unsur kimiawi tertentu. Makanya saya mengedukasi juga lewat penggunaan sabun alami, lerak, kata Septa.

Menurut dia, kerja sama dengan sektor perhotelan menjadi peluang untuk memperluas promosi sekaligus mengenalkan proses kreatif berbasis lingkungan kepada wisatawan dari berbagai daerah.

Staf Recreation, Spa and Recreation Garrya Bianti Yogyakarta, Eva, mengatakan pihaknya sengaja melibatkan UMKM dan artisan lokal dalam berbagai aktivitas karena sejalan dengan konsep holistic wellbeing yang diusung.
Kami berkolaborasi dengan beberapa artisan lokal dan UMKM di sekitar hotel. Salah satu aktivitas yang kami hadirkan adalah jamu making class dan eco-printing, kata Eva.

Ia menjelaskan holistic wellbeing yang diterapkan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga keseimbangan hidup, kreativitas, dan keterhubungan dengan lingkungan sekitar.

Program tersebut juga menjadi ruang bagi perempuan pelaku usaha dan artisan lokal untuk mengembangkan potensi serta memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas.

Kami memberikan wadah bagi mereka untuk menyalurkan ide dan karya. Sementara itu, tamu mendapatkan pengalaman yang menarik dan lebih dekat dengan budaya lokal, kata Eva.

Ia menegaskan kolaborasi dengan komunitas merupakan bagian dari komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat sekitar.
Kami percaya ketika merangkul komunitas sekitar dan bertumbuh bersama, ini menjadi upaya kami untuk memberikan pengalaman yang autentik bagi tamu yang menginap di Garrya Bianti Yogyakarta, ujarnya. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |