China Batasi Talenta AI ke Luar Negeri di Tengah Rivalitas Teknologi

7 hours ago 4

Jumali

Jumali Rabu, 27 Mei 2026 17:47 WIB


Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah China dilaporkan mulai memperketat pengawasan terhadap talenta kecerdasan buatan (AI) di sektor swasta dengan mewajibkan izin pemerintah bagi profesional tertentu sebelum bepergian ke luar negeri. Kebijakan tersebut disebut menyasar peneliti, insinyur, hingga eksekutif perusahaan teknologi yang dianggap memiliki kontribusi strategis bagi negara.

Langkah ini menandai perluasan kontrol Beijing terhadap industri teknologi, yang sebelumnya lebih banyak diterapkan pada lembaga pemerintah, universitas, dan perusahaan milik negara. Kini, pembatasan juga menyentuh perusahaan teknologi swasta besar seperti Alibaba hingga startup AI seperti DeepSeek.

Laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa para profesional AI kini tidak cukup hanya melaporkan rencana perjalanan luar negeri, tetapi harus memperoleh persetujuan resmi sebelum meninggalkan negara.

Talenta AI dianggap aset strategis

Kebijakan baru ini menunjukkan bahwa pemerintah Tiongkok kini memandang talenta AI sebagai aset nasional yang harus dijaga ketat di tengah persaingan teknologi global yang semakin intens, terutama dengan Amerika Serikat.

Penentuan individu yang masuk dalam pengawasan tidak lagi didasarkan pada jabatan formal atau senioritas, melainkan pada seberapa besar kontribusi mereka terhadap pengembangan teknologi strategis negara.

Situasi ini mencerminkan perubahan besar dalam cara Beijing memperlakukan industri AI, yang kini diposisikan sejajar dengan sektor sensitif lain seperti pertahanan dan energi.

Pengawasan ketat terhadap talenta AI juga dikaitkan dengan kekhawatiran pemerintah terhadap fenomena brain drain atau perpindahan tenaga ahli ke luar negeri.

Sebelumnya, perhatian publik sempat tertuju pada kasus startup AI Manus yang dikabarkan menghadapi tekanan setelah rencana akuisisi oleh perusahaan asing mencuat. Peristiwa tersebut memperkuat kekhawatiran pemerintah soal potensi kebocoran teknologi dan sumber daya manusia strategis.

Risiko bagi industri teknologi China

Meski bertujuan melindungi kepentingan nasional, kebijakan ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak terhadap industri teknologi domestik.

Sejumlah analis menilai pembatasan perjalanan dapat memengaruhi kemampuan perusahaan AI Tiongkok dalam mempertahankan dan merekrut talenta terbaik, terutama di tengah kompetisi global yang sangat agresif di sektor kecerdasan buatan.

Selain itu, kebijakan tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait meningkatnya intervensi negara dalam aktivitas perusahaan teknologi swasta.

Langkah Beijing ini memperlihatkan bahwa persaingan AI global kini tidak hanya berkutat pada pengembangan teknologi, tetapi juga perebutan sumber daya manusia.

Talenta AI semakin dipandang sebagai elemen strategis yang memiliki nilai ekonomi, keamanan, dan geopolitik tinggi. Kondisi tersebut diperkirakan akan memicu kebijakan serupa di berbagai negara yang berlomba memperkuat dominasi teknologi mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |