Jumali Selasa, 30 Juni 2026 15:07 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Kemenangan dramatis Maroko atas Belanda melalui drama adu penalti dengan skor 3-2 di Monterrey Stadium, Meksiko, Selasa (30/6/2026), menjadi panggung pembuktian bagi tim berjuluk Atlas Lions. Keberhasilan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 untuk menghadapi Kanada pada 4 Juli mendatang memicu rasa penasaran publik mengenai makna mendalam di balik julukan tersebut.
Secara ilmiah, satwa yang dikenal dengan nama Panthera leo leo ini merupakan subspesies singa yang dahulu mendiami kawasan pegunungan dan hutan di Afrika Utara, terutama Pegunungan Atlas serta wilayah pesisir Mediterania di Maroko, Aljazair, dan Tunisia.
Julukan ini dipilih untuk timnas Maroko lantaran melambangkan kekuatan, keberanian, dan kegarangan—sifat yang mereka tunjukkan di lapangan hijau saat berhadapan dengan Belanda. Layaknya singa Atlas yang dulu dihormati sebagai simbol otoritas kerajaan dan perlindungan oleh masyarakat Berber, timnas Maroko kini menjadi kebanggaan yang menyatukan seluruh negeri.
Namun, di balik kebanggaan tersebut, Singa Atlas kini telah punah di alam liar. Marrakech Camel Trips mengungkapkan, subspesies ini dikenal sebagai salah satu kucing besar terbesar di dunia, dengan ciri khas surai jantan tebal dan gelap yang panjangnya bisa mencapai 8 hingga 22 sentimeter, menjadikannya ikon dalam berbagai catatan sejarah dan karya seni kuno.
Singa Atlas jantan dewasa diperkirakan memiliki panjang 2,5 hingga 3 meter dengan bobot 150 hingga 250 kilogram, sementara betinanya lebih kecil. Secara genetika, spesies ini merupakan bagian dari garis keturunan utara singa modern yang terpisah sekitar 70.000 tahun lalu akibat isolasi geografis Gurun Sahara.
Kepunahan di alam liar berlangsung bertahap. Tekanan besar dimulai sejak era Romawi ketika ribuan singa ditangkap untuk pertarungan gladiator. Pada masa kolonial Eropa, perburuan semakin intensif hingga populasi terus menurun drastis.
Catatan terakhir keberadaan Singa Atlas liar tercatat pada 1942 di kawasan Tizi n’Tichka, Pegunungan Atlas Tinggi, Maroko. Setelah itu, spesies ini dinyatakan punah di alam liar pada pertengahan abad ke-20, meski sejumlah laporan tidak terverifikasi masih muncul hingga 1960-an.
Meski demikian, sejumlah Singa Atlas diduga masih bertahan di penangkaran, namun penelitian genetika menunjukkan banyak yang telah mengalami pencampuran dengan singa lain sehingga kemurnian garis keturunannya sangat terbatas.
Sejumlah program konservasi internasional masih berjalan, termasuk di fasilitas kebun binatang konservasi Eropa yang melaporkan kelahiran anak singa pada 2025 sebagai bagian dari upaya pelestarian. Maroko juga disebut terlibat dalam kajian reintroduksi di kawasan lindung tertentu.
Bagi publik Maroko, Singa Atlas bukan sekadar simbol sejarah, tetapi identitas nasional yang kembali hidup melalui sepak bola. Kini, saat Atlas Lions melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, semangat sang singa kembali digaungkan sebagai lambang keberanian di panggung dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































