
Festival melukis layangan/Ist
Harianjogja.com, JOGJA—Cara membuat layang-layang tradisional masih banyak dicari masyarakat, terutama saat musim kemarau ketika angin bertiup cukup kencang untuk bermain layangan. Selain menjadi aktivitas yang menyenangkan, merakit layang-layang sendiri juga dapat melatih kreativitas sekaligus mempertahankan permainan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.
Salah satu keunggulan layang-layang tradisional ialah penggunaan bahan-bahan sederhana, seperti bambu, kertas, dan benang. Dengan kerangka yang ringan serta seimbang, layang-layang akan lebih mudah diterbangkan. Agar hasilnya kokoh dan stabil saat berada di udara, proses pembuatannya perlu dilakukan secara bertahap mulai dari menyiapkan bahan hingga memasang tali kendali.
Bahan dan Peralatan Membuat Layang-Layang Tradisional
Sebelum mulai merakit, siapkan seluruh bahan dan perlengkapan berikut agar proses pembuatan berjalan lebih mudah.
- Dua bilah bambu tipis
- Bilah utama (vertikal) sepanjang sekitar 50 sentimeter.
- Bilah sayap (horizontal) sepanjang sekitar 40 sentimeter dengan karakter lebih lentur dibanding bilah utama.
- Kertas layangan, kertas minyak, atau kertas koran bekas.
- Benang jahit yang kuat atau benang kenur tipis.
- Lem kertas, seperti lem povinal, lem rajawali, atau lem sagu/kanji.
- Pisau raut, gunting, dan spidol sebagai alat bantu.
Cara Membuat Layang-Layang Tradisional
1. Raut dan Seimbangkan Bilah Bambu
Haluskan kedua bilah bambu menggunakan pisau hingga permukaannya rata. Untuk bilah horizontal, pastikan sisi kanan dan kiri memiliki berat yang sama. Cara mengeceknya cukup dengan menumpukan bagian tengah bambu pada jari telunjuk. Apabila bambu condong ke salah satu sisi, raut kembali bagian yang lebih berat hingga posisinya benar-benar seimbang.
2. Susun Kerangka Layang-Layang
Letakkan bilah utama secara tegak, kemudian pasang bilah horizontal pada bagian atas sekitar sepertiga panjang bambu vertikal sehingga membentuk huruf T atau salib.
Setelah posisi sesuai, ikat titik pertemuan kedua bambu menggunakan benang dengan pola menyilang hingga beberapa kali agar kerangka tidak mudah bergeser.
3. Pasang Benang Bingkai
Bentangkan benang dari titik ikatan menuju ujung atas bambu vertikal, kemudian lanjutkan ke ujung kanan bilah horizontal, turun ke ujung bawah, bergeser ke ujung kiri, lalu kembali ke bagian atas.
Tarik benang hingga benar-benar tegang agar membentuk pola belah ketupat yang simetris. Pastikan setiap ujung bambu diikat kuat supaya bingkai tidak berubah bentuk.
4. Tempelkan Kertas Penutup
Bentangkan kertas pada permukaan datar, lalu letakkan kerangka bambu di atasnya. Gunting mengikuti bentuk kerangka dengan menyisakan kelebihan sekitar 1–2 sentimeter sebagai lipatan.
Lipat bagian tepi kertas ke arah dalam hingga membungkus benang bingkai, kemudian rekatkan menggunakan lem secara merata. Diamkan beberapa menit sampai lem benar-benar mengering.
5. Pasang Tali Tuba atau Tali Kama
Bagian ini menjadi penentu keseimbangan layang-layang saat diterbangkan. Ikat satu ujung benang pada titik pertemuan kedua bambu, sedangkan ujung lainnya dipasang di bagian bawah bambu vertikal dekat ekor.
Selanjutnya, tarik benang tersebut untuk menemukan titik keseimbangan. Buat simpul pada titik tersebut sebagai tempat mengikat benang utama atau benang gelasan ketika layang-layang akan diterbangkan.
Tips agar Layang-Layang Terbang Stabil
Tambahkan ekor dari potongan kertas memanjang apabila layang-layang berputar atau sulit stabil saat diuji terbang. Ekor berfungsi sebagai penyeimbang ketika terkena angin.
Perhatikan kelenturan bilah sayap. Sayap yang terlalu kaku membuat layang-layang sulit terangkat ketika angin lemah, sedangkan sayap yang terlalu lentur berpotensi melengkung saat angin bertiup kencang. Dengan keseimbangan kerangka, pemasangan tali yang tepat, serta pemilihan bahan yang ringan, cara membuat layang-layang tradisional ini dapat menghasilkan layangan yang lebih stabil dan mudah mengudara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































