Harianjogja.com, BANTUL—Suara mesin jahit dan alat pemotong kulit bersahutan dari sebuah rumah di perkampungan Baturetno, Banguntapan, Bantul. Di tempat sederhana itu, puluhan pekerja mengolah kulit sapi menjadi tas, dompet, dan berbagai produk Djoen Leather yang kini telah menembus pasar Belanda, Korea Selatan, Irlandia, Prancis, hingga Amerika Serikat.
Di balik usaha tersebut ada sosok Harjuno Wiwoho atau yang akrab disapa Juno. Djoen Leather menjadi salah satu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan BNI yang berhasil berkembang hingga menembus pasar internasional.
Perjalanan usaha itu tidak dimulai dengan modal besar. Pada 2015, Juno hanya memiliki modal sekitar Rp4,3 juta. Jumlah tersebut, menurutnya, hanya cukup untuk membeli peralatan produksi sederhana. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya mengurungkan niat membangun usaha.
Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade di industri perkulitan, jaringan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, serta keyakinan untuk terus bertahan, ia perlahan mengembangkan Djoen Leather hingga mampu dikenal di pasar luar negeri.
"Modal awal saya hanya sekitar Rp4,3 juta. Tapi saya punya hubungan baik dengan pemasok kulit dan para perajin. Dari situlah usaha ini bisa berjalan dan terus berkembang," ujarnya, Selasa (23/6).

Pengalaman panjang menjadi modal penting bagi Juno. Setelah lulus dari Akademi Teknologi Kulit (ATK) pada 1999, ia bekerja di pabrik sepatu di Surabaya. Selama bekerja, ia terlibat dalam berbagai proses produksi, mulai dari desain hingga pengolahan kulit.
Pada 2008, ia memutuskan pulang ke Bantul untuk membangun usaha sendiri. Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Usaha pertamanya bangkrut pada 2009. Ia kembali mencoba pada 2011 bersama rekan bisnis, tetapi kerja sama itu harus berakhir karena perbedaan pandangan.
Baru pada 2015, Djoen Leather lahir sebagai usaha yang benar-benar dibangun sendiri. "Kalau ditanya kenapa memilih kulit, karena saya melihat kulit itu tidak ada matinya. Selalu ada pasarnya. Mungkin naik turun, tapi tetap eksis," ujarnya.
Di tengah keterbatasan modal, Juno justru memiliki modal lain yang menurutnya jauh lebih berharga, yakni kepercayaan. Ia menuturkan para pemasok kulit maupun aksesori bersedia memberikan bahan baku lebih dahulu tanpa pembayaran di muka. Pembayaran baru dilakukan setelah produk selesai diproduksi dan dikirim kepada pelanggan.
Kepercayaan itulah yang mengantarkan Djoen Leather memperoleh pesanan ekspor pertama pada 2016. Saat itu, seorang pembeli dari Belanda memesan seribu lembar kulit kambing berbulu. Nilai transaksi tersebut jauh melampaui kemampuan modal yang dimiliki.
Namun, berkat hubungan baik yang telah dibangun, Juno memperoleh pasokan dari rekannya dan baru melakukan pembayaran setelah pesanan dilunasi pembeli. "Kalau track record kita bagus, orang akan percaya. Itu modal yang paling mahal sebenarnya," ujarnya.
Ketika pandemi Covid-19 membuat banyak pelaku usaha mengalami perlambatan, Djoen Leather justru memperoleh salah satu pesanan terbesar dari Korea Selatan. Setiap bulan, ribuan dompet sintetis diproduksi untuk memenuhi permintaan pasar di negara tersebut sehingga roda usaha tetap berputar.
Meski demikian, Juno menilai ekspor tidak selalu menjadi pilihan paling menguntungkan. Menurutnya, pasar lokal justru sering memberikan margin yang lebih baik. "Kalau ekspor memang jumlahnya besar, tapi marginnya kadang tipis. Kalau pasar lokal sebenarnya lebih menguntungkan," katanya.
Salah seorang pekerjanya, Febriana Ayuningtyas, mengaku kehidupannya ikut berubah sejak bergabung dengan Djoen Leather pada 2019. Awalnya ia menangani administrasi produksi, kemudian ikut membantu proses finishing dan penyiapan bahan. "Dapat teman, dapat pengalaman, dan bisa membantu ekonomi keluarga juga. Jadi banyak manfaatnya," ujarnya.
Seiring perkembangan usaha, Djoen Leather kemudian bergabung dalam program pembinaan UMKM BNI. Berbagai pelatihan, pendampingan usaha, akses pameran, hingga jejaring bisnis yang difasilitasi BNI membuat Djoen Leather semakin dikenal dan mampu memperluas pasar.
Setelah lebih dari satu dekade bertahan, Juno kini tidak lagi hanya memikirkan bagaimana usahanya tetap berjalan. Ia mulai menyiapkan berbagai rencana pengembangan, mulai dari menghadirkan lini produk premium dengan kualitas lebih eksklusif hingga sistem keanggotaan yang menawarkan produk dan layanan khusus bagi pelanggan.

Peran Penting Pendampingan
Regional Chief Executive Officer (RCEO) BNI Wilayah 17 Jogja, Ari Masdianto, mengatakan BNI melakukan pendampingan UMKM secara menyeluruh. “BNI Wilayah 17 berkomitmen mendampingi UMKM DIY secara end-to-end, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, digitalisasi, pembiayaan, hingga akses pasar internasional,” katanya, Selasa.
Ari menjelaskan BNI Wilayah 17 Jogja saat ini mendampingi lebih dari seratus UMKM binaan di DIY melalui tiga tahapan utama.
Pada fase inisiasi, BNI membantu meningkatkan kapabilitas bisnis melalui edukasi, pelatihan, dan pendampingan agar UMKM memiliki fondasi yang kuat dari sisi manajemen, legalitas, serta kualitas produk.
Selanjutnya, pada fase akselerasi, UMKM didorong mengadopsi digitalisasi dalam operasional maupun pemasaran sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan efisiensi usaha.
“Setelah UMKM dinilai siap lanjut ke fase scale-up. BNI membuka akses menuju pasar global melalui platform Xpora, business matching dengan buyer luar negeri, serta sinergi dengan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center [ITPC] di berbagai negara,” katanya.
Menurut Ari, pendampingan tersebut membuat UMKM tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai ekspor, tetapi juga kesempatan bertemu calon pembeli dan membuka peluang transaksi secara langsung. “BNI Wilayah 17 Jogja memandang UMKM DIY sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekspor daerah,” katanya.
Di balik kisah Djoen Leather, masih banyak UMKM di Indonesia yang berjuang untuk naik kelas. Berdasarkan data Kementerian UMKM, hingga akhir 2025 terdapat sekitar 30,21 juta UMKM nonpertanian yang telah masuk Basis Data Tunggal. Sebanyak 99,70% di antaranya merupakan usaha mikro sehingga struktur UMKM nasional masih didominasi pelaku usaha dengan modal, kapasitas produksi, dan daya saing yang terbatas.
Pemerintah kini menggeser fokus pembinaan dari sekadar menambah jumlah UMKM menjadi mendorong pelaku usaha agar mampu naik kelas. Seperti dikutip dari umkm.go.id, tantangan yang masih dihadapi antara lain rendahnya penerapan standar dan sertifikasi produk, pemanfaatan teknologi yang belum optimal, keterbatasan akses pembiayaan, serta masih minimnya kemitraan dalam rantai pasok industri.
Di sisi lain, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional juga masih relatif kecil. Seperti dikutip dari ekon.go.id, sumbangannya baru sekitar 15,7% sehingga pemerintah terus memperkuat kualitas produk, sertifikasi, kapasitas produksi, hingga fasilitasi ekspor agar lebih banyak UMKM mampu menembus pasar global.
Transformasi digital juga menjadi salah satu fokus pengembangan. Bank Indonesia menilai digitalisasi dapat meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, memperkuat pembiayaan, sekaligus membuka peluang UMKM bersaing di pasar internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































