Bediding Makin Terasa, Warga Gunungkidul Diminta Waspada

3 hours ago 1

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Fenomena bediding yang membuat suhu udara di Gunungkidul terasa lebih dingin dari biasanya mulai menjadi perhatian. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit musiman, terutama batuk dan pilek, yang berpotensi muncul saat daya tahan tubuh menurun akibat cuaca dingin.

Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di Gunungkidul tercatat turun hingga mencapai 19,3 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi salah satu tanda puncak musim kemarau mulai mendekat dan menyebabkan udara malam hingga dini hari terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Gunungkidul, Wanda Abrar, mengatakan fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau berlangsung.

"Sebenarnya ini fenomena normal karena hampir terjadi setiap tahun," kata Wanda, Rabu (1/7/2026).

Meski tergolong fenomena alam yang biasa terjadi, Wanda mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh dampaknya terhadap kesehatan. Menurut dia, suhu udara yang lebih dingin dapat memengaruhi daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih mudah terserang penyakit.

Batuk dan pilek menjadi keluhan yang paling sering muncul saat bediding. Selain itu, kondisi cuaca dingin juga dapat memicu kambuhnya penyakit asma, alergi kulit, hingga rematik pada sebagian masyarakat yang memiliki riwayat gangguan kesehatan tersebut.

"Kondisi tubuh harus benar-benar dijaga karena hawa dingin ini bisa menurunkan daya tahan," katanya.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan menggunakan pakaian yang lebih hangat saat beraktivitas, terutama pada malam hingga pagi hari. Penggunaan jaket, pakaian berlapis, maupun selimut saat tidur dinilai dapat membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.

Selain menjaga tubuh tetap hangat, Wanda menekankan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat selama masa bediding. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, serta membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan maupun setelah beraktivitas.

Aktivitas olahraga secara rutin juga disarankan untuk membantu menjaga kebugaran tubuh. Tidak harus dengan intensitas tinggi, olahraga ringan yang dilakukan secara teratur dinilai cukup membantu meningkatkan daya tahan tubuh selama cuaca dingin berlangsung.

Istirahat yang cukup juga menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi kesehatan. Menurut Wanda, tubuh membutuhkan waktu pemulihan yang optimal agar sistem kekebalan tetap bekerja dengan baik.

"Tentunya juga harus diimbangi dengan asupan makanan dan minuman bergizi yang masih hangat untuk menjaga suhu tubuh," ujarnya.

Selain meningkatkan risiko penyakit pernapasan, fenomena bediding juga dapat menyebabkan seseorang lebih sering buang air kecil. Kondisi tersebut terjadi karena suhu dingin memengaruhi respons tubuh dalam mengatur cairan.

Meski terlihat ringan, frekuensi buang air kecil yang meningkat perlu diwaspadai karena dapat memicu kekurangan cairan apabila tidak diimbangi dengan konsumsi air yang cukup.

"Tidak boleh sampai dehidrasi karena bisa menurunkan fokus, kepala pusing, mudah lelah hingga risiko infeksi saluran kencing juga lebih besar. Makanya, saat sering buang air kecil, harus diimbangi dengan minum cukup air," kata Wanda.

Sementara itu, Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Muhammad Nur Hadi, menjelaskan bahwa bediding identik dengan suhu udara yang lebih rendah dibandingkan hari-hari biasa.

Menurut dia, fenomena tersebut umumnya terjadi saat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memasuki puncak musim kemarau.

"Untuk Gunungkidul suhu terendah mencapai 19,3 derajat Celsius," kata Nur.

Ia mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh selama periode bediding berlangsung. Selain batuk dan pilek, cuaca yang lebih kering juga berpotensi menimbulkan keluhan seperti kulit kering dan bibir pecah-pecah apabila tidak diantisipasi sejak dini.

"Untuk mengurangi hawa dingin juga bisa menggunakan pakaian lebih tebal saat malam hari," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |