
Prosesi penyerahan bantuan bedah rumah Pemkot Jogja di Kemantren Mergangsan, pada Minggu (21/6/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Program bedah rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali menyoroti wajah kemiskinan yang banyak dialami kelompok lanjut usia (lansia) di perkotaan. Dua rumah tidak layak huni di Kemantren Mergangsan milik Sumiyatun dan Budi Hartono resmi direnovasi pada Minggu (21/6/2026).
Kedua penerima manfaat tersebut merupakan lansia yang hidup sebatang kara tanpa penghasilan tetap. Program ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Jogja untuk menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga rentan.
Wali Kota Jogja, , mengatakan bahwa penerima program bedah rumah kali ini mencerminkan kondisi nyata kemiskinan di Kota Jogja, khususnya pada kelompok lansia yang tidak lagi produktif.
“Rumahnya tidak layak huni, dan pada umumnya penghuninya adalah orang-orang yang hidup sendiri tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan tetap. Hari ini ada dua rumah yang selesai direnovasi, keduanya lansia,” ujar Hasto di sela kegiatan bedah rumah di Mergangsan.
Menurutnya, banyak kasus serupa terjadi pada warga lansia yang dulunya masih memiliki penghasilan, namun kini kehilangan sumber ekonomi di usia tua. Kondisi tersebut membuat mereka sangat rentan secara sosial maupun ekonomi.
Ia mencontohkan kisah salah satu penerima bantuan, Sumiyatun, yang pernah memiliki penghasilan cukup saat muda, namun kini harus bertahan hidup dengan kondisi serba terbatas.
“Dulu waktu masih bekerja bisa membeli perhiasan, tapi sekarang sudah harus menjual semuanya untuk bertahan hidup. Bahkan sekarang masih mengandalkan aktivitas sederhana seperti mengamen,” jelasnya.
Hasto menegaskan, kelompok lansia miskin menjadi salah satu fokus utama Pemkot Jogja dalam program penanganan kemiskinan. Selain bantuan sosial, perbaikan rumah tidak layak huni dinilai menjadi intervensi penting untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Lansia miskin ini menjadi perhatian serius karena kontribusinya terhadap angka kemiskinan cukup signifikan. Maka bedah rumah menjadi salah satu langkah yang kami prioritaskan,” tegasnya.
Ia menyebutkan, sepanjang tahun 2026 Pemkot Jogja menargetkan sekitar 200 unit rumah untuk direnovasi melalui program bedah rumah. Sebagian besar sasaran program ini adalah warga lanjut usia dan kelompok rentan.
Sementara itu, Sumiyatun mengaku sangat bersyukur rumahnya kini mulai diperbaiki setelah lama dalam kondisi memprihatinkan. Rumahnya yang semi permanen kerap bocor saat hujan dan memiliki banyak celah yang membuat hewan liar mudah masuk.
“Saya tinggal sendiri. Kalau hujan deras pasti bocor, rumah juga masih banyak lubang. Sering ada ular masuk,” tuturnya.
Ia mengaku bahagia akhirnya mendapat bantuan renovasi rumah agar lebih layak huni. Meski hidup sendiri, Sumiyatun masih merasakan kepedulian dari tetangga sekitar yang sesekali membantu ketika ia membutuhkan pertolongan.
“Kalau sakit saya rawat sendiri, tapi tetangga kadang membantu. Mereka baik,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































