Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Pekalongan mengevakuasi warga terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Bremi beberapa waktu lalu. ANTARA/ist - Humas Kota Pekalongan
Harianjogja.com, PEKALONGAN—Sebanyak 254 warga terdampak banjir di wilayah di Pabean, Kota Pekalongan masih bertahan di lokasi pengungsian. Mereka belum kembali ke rumah karena genangan air belum sepenuhnya surut meski perbaikan tanggul sudah dilakukan.
Perkembangan terbaru menunjukkan penanganan tanggul Sungai Bremi terus berjalan dan kini memasuki tahap perapian. Namun, proses pemulihan masih menunggu surutnya air di wilayah terdampak, terutama di Pasirsari.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, mengatakan warga masih memilih bertahan di pengungsian sambil menunggu kondisi lingkungan benar-benar aman.
“Ratusan warga terdampak masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu kondisi genangan air benar-benar surut,” ujarnya, Senin (30/3).
Para pengungsi tersebar di sejumlah titik, yakni di eks aula Kelurahan Kraton Kidul sebanyak 116 jiwa, di aula Kelurahan Pasirkratonkramat 79 jiwa, di TPQ Madinatul Ulum 50 jiwa, serta di aula Kecamatan Pekalongan Barat sembilan jiwa.
Menurutnya, tanggul di wilayah Pabean yang sebelumnya jebol kini telah diperbaiki dan hanya menyisakan tahap perapian.
“Alhamdulillah tanggul Pabean sudah diperbaiki, tinggal dirapikan saja. Mudah-mudahan tidak jebol lagi dan kini tinggal menunggu air surut di wilayah Pasirsari dengan menggunakan bantuan pompa air,” katanya.
Banjir yang terjadi bermula dari jebolnya tanggul sisi timur Sungai Bremi di wilayah di Pabean pada Kamis (26/3). Kerusakan tanggul mencapai panjang sekitar 15 meter, lebar tiga meter, dan tinggi dua meter.
Akibatnya, air sungai meluap dan menggenangi kawasan permukiman, meski saat kejadian kondisi cuaca dilaporkan cerah tanpa hujan.
Warga mulai mengungsi sejak Jumat (27/3) setelah debit air terus meningkat dan merendam rumah di wilayah Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat.
Dalam penanganan kejadian ini, pemerintah kota bersama berbagai pihak telah melakukan pemantauan, patroli kesiapsiagaan, evakuasi warga, serta asesmen dampak banjir.
Selain itu, koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan terpadu.
Pemerintah bersama TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD), serta sukarelawan juga mengaktifkan posko kebencanaan, menyediakan layanan informasi, serta memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
Logistik dan layanan kesehatan bagi warga terdampak juga terus disalurkan selama masa pengungsian berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































