AS Buka Opsi Hancurkan Kemampuan Nuklir Iran

7 hours ago 5

Newswire

Newswire Senin, 07 September 2026 10:47 WIB

AS Buka Opsi Hancurkan Kemampuan Nuklir Iran

Ilustrasi pemanfaatan nuklir. Freepik

Harianjogja.com, ISTANBUL—Amerika Serikat (AS) menyebut kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu dapat terwujud. Menteri Energi AS Chris Wright bahkan mengatakan Washington mungkin harus mengandalkan penghancuran kemampuan nuklir Teheran.

"Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir," kata Wright kepada ABC News. "Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu."

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan antara AS dan Iran yang masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeklaim kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar sejak serangan AS-Israel dimulai pada akhir Februari, meskipun sistem pemerintahan Iran tetap bertahan di bawah pemimpin tertinggi yang baru.

AS Buka Kemungkinan Hancurkan Kemampuan Nuklir Iran

Ketika ditanya apakah pemboman berkelanjutan akan menjadi strategi untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Wright mengatakan langkah tersebut tampaknya memang diperlukan.

"Anda harus menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya," katanya.

Wright juga menyinggung pembangunan infrastruktur rudal Iran yang digunakan untuk memproduksi rudal. Menurutnya, rudal tersebut kini digunakan Iran, tetapi kemampuan untuk membuat lebih banyak rudal disebut tidak dimiliki.

"Mereka membangun infrastruktur rudal besar untuk memproduksi rudal, yang sekarang Anda lihat mereka tembakkan, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat lebih banyak rudal."

Arus Minyak di Selat Hormuz Capai 9 Juta Barel per Hari

Selain persoalan nuklir, Wright membahas arus minyak yang melewati Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pengiriman energi global.

Wright mengatakan rata-rata tujuh hari arus minyak melalui Selat Hormuz kini mencapai lebih dari 9 juta barel per hari. Menurutnya, angka tersebut merupakan rata-rata tujuh hari tertinggi yang pernah tercatat.

Ia sebelumnya juga menyampaikan keterangan serupa pada awal Agustus.

Jika aliran minyak melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab turut diperhitungkan, total arus minyak yang keluar dari kawasan tersebut mencapai sekitar 13 juta hingga 14 juta barel per hari.

Kesepakatan Juni AS-Iran Belum Berjalan Mulus

Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Nota tersebut memuat langkah menuju penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penyelesaian pembatasan ekonomi.

Namun, sejak kesepakatan tersebut ditandatangani, kedua pihak saling menuduh gagal menjalankan komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman.

Situasi itu membuat Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan. AS dan Iran menyampaikan klaim yang bertolak belakang mengenai keterbukaan jalur tersebut, pihak yang mengendalikannya, serta tingkat keamanan bagi pelayaran komersial.

AS dan Iran Berbeda Klaim soal Selat Hormuz

Pejabat AS mengatakan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau Iran. Washington juga menyebut puluhan kapal melintas setiap hari.

Teheran memiliki klaim berbeda. Iran bersikeras Selat Hormuz masih berada di bawah kendali Iran dan belum terbuka atau aman dari ancaman ranjau.

Perbedaan klaim tersebut membuat kondisi Selat Hormuz tetap menjadi perhatian, terutama karena jalur tersebut memiliki posisi penting bagi pengiriman energi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |