Antrean Pertalite Menguras Waktu, Pekerja di Jogja Pilih Irit BBM

6 hours ago 6

Antrean Pertalite Menguras Waktu, Pekerja di Jogja Pilih Irit BBM

Ilustrasi BBM/Ist. dok. Pertamina Patra Niaga

Harianjogja.com, JOGJA—Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax RON 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berdampak langsung pada perilaku pengguna kendaraan di Kota Yogyakarta. Kondisi ini mendorong sejumlah pekerja di Jogja untuk menyesuaikan pola penggunaan kendaraan agar pengeluaran bahan bakar lebih terkendali di tengah kenaikan harga BBM.

Pasalnya sebagian besar pengguna pertamax beralih ke pertalite seiring kenaikan harga. Kondisi itu membuat hampir semua SPBU terjadi antrean panjang yang menguras waktu untuk pembelian bbm subsidi pertalite. Hal

Salah satunya dialami Nuryanto, pekerja swasta di Jogja, yang kini mulai mengurangi intensitas perjalanan menggunakan sepeda motor. Ia memilih mengganti sebagian aktivitas akhir pekan dengan bersepeda keliling kampung sebagai upaya penghematan konsumsi BBM, setelah sebelumnya rutin bepergian bersama keluarga ke berbagai destinasi wisata menggunakan kendaraan bermotor.

“Kalau biasanya bepergian menggunakan sepeda motor, sekarang pakai sepeda keliling desa,” katanya.

Meski melakukan penyesuaian aktivitas, Nuryanto menegaskan masih tetap menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar utama. Ia mengaku belum berniat beralih ke BBM bersubsidi karena mempertimbangkan waktu antrean yang kini semakin panjang di sejumlah SPBU.

“Belum kepikiran ganti Pertalite, karena efektivitas waktu, sekarang bisa 10–20 menit [mengantre] karena makin banyak dicari masyarakat,” katanya, Sabtu (13/6/2026).

Dari sisi pengeluaran, ia mengakui adanya kenaikan biaya rutin untuk kebutuhan BBM dibandingkan sebelumnya. Peningkatan harga membuat alokasi pengeluaran mingguan untuk bahan bakar menjadi lebih besar dari kondisi sebelum kenaikan tarif Pertamax.

“Kalau dulu seminggu itu [biaya pembelian BBM Pertamax] sekitar Rp100 ribu untuk Pertamax, [dengan] mengisi setiap dua hingga tiga kali seminggu. Sekarang bisa sekitar Rp120 ribu per minggu dengan intensitas perjalanan saat ini,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan Rahmadhan, pekerja swasta di Jogja yang sehari-hari menggunakan skuter matik. Ia tetap mempertahankan penggunaan Pertamax meski harus menanggung biaya yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

“Tetap [menggunakan] Pertamax sih. Dulu setiap ngisi Rp50.000 bisa buat 4–5 hari. Kemarin baru ngisi lagi setelah harga naik, [tapi] Rp50.000 cuma dapat [sekitar] 3 liter, paling cuma bertahan 2–3 hari,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Rahmadhan menegaskan pilihannya tetap tidak berubah meskipun harga naik, karena ia menilai antrean BBM bersubsidi justru semakin panjang. Kondisi ini membuat sebagian pengguna kendaraan memilih bertahan pada BBM non subsidi demi efisiensi waktu.

Belakangan, sejumlah SPBU di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami antrean kendaraan yang cukup panjang setelah kenaikan harga BBM non subsidi. Sebelumnya, antrean untuk BBM bersubsidi juga sudah kerap terjadi, dengan waktu tunggu sekitar tiga hingga lima kendaraan per giliran pengisian.

Kini, antrean tersebut dilaporkan semakin padat karena sebagian pengguna BBM non subsidi mulai beralih ke BBM bersubsidi. Akibatnya, waktu tunggu di beberapa SPBU meningkat seiring bertambahnya volume kendaraan yang mengantre.

“Enggak [berencana beralih ke BBM bersubsidi], tetap Pertamax, sudah kebiasaan [menggunakan BBM Pertamax] bertahun-tahun. Males juga lihat antrean Pertalite sekarang sepanjang itu,” katanya.

Menurutnya, penggunaan BBM non subsidi masih dianggap lebih efisien dibandingkan harus menghabiskan waktu di antrean panjang SPBU. Selain itu, ia juga belum mempertimbangkan penggunaan transportasi umum karena tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan mobilitas ke berbagai lokasi dalam satu hari.

Sementara itu, sejumlah SPBU di Kota Jogja terpantau mengalami peningkatan antrean pembelian BBM bersubsidi, di antaranya SPBU Dukuh dan SPBU Jogokariyan. Pada kondisi normal, antrean berkisar lima hingga enam kendaraan, namun kini meningkat menjadi sekitar delapan hingga sepuluh kendaraan pada jam-jam sibuk pagi dan malam hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |