AI Mythos Diklaim Temukan Celah Sistem Rahasia AS dalam Hitungan Jam

6 hours ago 2

Jumali

Jumali Kamis, 25 Juni 2026 12:07 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan kecerdasan buatan kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai keamanan digital global. AI bernama Mythos yang dikembangkan perusahaan Anthropic disebut mampu mengidentifikasi kerentanan pada hampir seluruh sistem komputer rahasia pemerintah Amerika Serikat hanya dalam hitungan jam. Klaim tersebut disampaikan dalam sidang Senat Amerika Serikat dan langsung menjadi perhatian komunitas keamanan siber dunia.

Pernyataan itu diungkap oleh Senator Mark Warner dalam sidang Senat pada 11 Juni 2026. Mengutip informasi dari Kepala Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) sekaligus Komandan Siber AS, Jenderal Joshua Rudd, Warner menyebut kemampuan Mythos jauh melampaui ekspektasi banyak pihak.

"Alat ini membobol hampir seluruh sistem rahasia kami, bukan dalam hitungan minggu, tetapi dalam hitungan jam," ujar Warner dikutip dari Associated Press (AP).

Meski demikian, sejumlah pejabat keamanan menekankan bahwa pernyataan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Keberhasilan Mythos dalam menemukan kerentanan tidak otomatis berarti AI tersebut mampu mengeksploitasi atau menyerang sistem yang ditemukan bermasalah.

Seorang pejabat pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya menjelaskan bahwa model AI tersebut berhasil mengidentifikasi titik-titik lemah dalam sistem, tetapi belum tentu dapat langsung memanfaatkan kelemahan tersebut untuk melakukan penetrasi. Dengan kata lain, Mythos mampu menemukan "pintu yang tidak terkunci", tetapi belum tentu bisa langsung masuk ke dalamnya.

Kemampuan itu diuji melalui program khusus bernama Project Glasswing. Program yang diprakarsai Anthropic tersebut mempertemukan sejumlah perusahaan teknologi besar untuk meningkatkan keamanan perangkat lunak penting yang digunakan di berbagai sektor strategis.

Dalam proyek tersebut, sejumlah perusahaan seperti Amazon, Microsoft, dan Apple dilaporkan ikut berpartisipasi. Tujuannya adalah menguji sejauh mana AI generasi terbaru dapat membantu mengidentifikasi risiko keamanan yang berpotensi mengancam keselamatan publik, ekonomi, hingga keamanan nasional.

Namun di tengah keberhasilan teknologinya, Anthropic justru menghadapi ketegangan dengan pemerintah Amerika Serikat.

Perusahaan yang berbasis di California itu dilaporkan menolak penggunaan model AI mereka untuk mendukung sistem pengawasan militer maupun pengembangan senjata otonom. Sikap tersebut memicu respons dari pemerintah yang kemudian menerbitkan arahan agar Anthropic membatasi akses warga negara asing terhadap model AI terbaru mereka, termasuk Fable 5 dan Mythos 5.

Kebijakan tersebut muncul tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengatur evaluasi risiko keamanan nasional terhadap sistem AI canggih sebelum dirilis secara luas ke publik.

Sebagai bentuk kepatuhan terhadap kebijakan tersebut, Anthropic diketahui menonaktifkan akses model terkait untuk seluruh pelanggan. Meski begitu, perusahaan disebut masih mempertanyakan urgensi langkah tersebut.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan akses itu memunculkan kritik dari kalangan industri keamanan siber. Lebih dari 100 pakar dan pimpinan perusahaan keamanan digital dilaporkan mengirim surat kepada pemerintah AS.

Mereka berpendapat bahwa kemampuan Mythos memang sangat baik dalam menemukan celah keamanan, tetapi tidak secara signifikan lebih unggul dibandingkan sejumlah model AI lain yang telah tersedia di pasar. Menurut mereka, membatasi teknologi pertahanan siber yang efektif tanpa alasan yang kuat justru berpotensi menghambat upaya menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.

Sementara itu, Project Glasswing terus diperluas. Jika pada tahap awal hanya melibatkan sekitar 50 organisasi, kini program tersebut disebut telah berkembang menjadi hampir 200 mitra dari lebih dari 15 negara.

Beberapa perusahaan besar dari Korea Selatan, seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan SK Telecom, dilaporkan telah bergabung dalam inisiatif tersebut. Korea Selatan bahkan disebut telah memperoleh akses resmi terhadap model Mythos untuk mendukung penguatan sistem keamanan digital mereka.

Hingga saat ini, baik Anthropic maupun NSA belum memberikan penjelasan rinci mengenai hasil pengujian Mythos. Namun perdebatan yang muncul menunjukkan satu hal penting: kemampuan AI dalam bidang keamanan siber berkembang jauh lebih cepat dibandingkan regulasi yang mengaturnya.

Di satu sisi, teknologi seperti Mythos berpotensi menjadi alat pertahanan yang sangat efektif untuk mendeteksi ancaman sebelum terjadi serangan. Di sisi lain, kemampuan yang sama juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai batas penggunaan AI dan bagaimana negara-negara dapat memastikan teknologi tersebut tetap berada dalam kendali manusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |