5 Negara Termiskin di Dunia 2026, Ada yang 90 Persen Warganya Miskin

5 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Pertumbuhan ekonomi global belum mampu menghapus jurang kesejahteraan yang masih lebar antara negara maju dan negara berpendapatan rendah. Di sejumlah wilayah, konflik bersenjata, ketidakstabilan politik, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar membuat jutaan penduduk tetap hidup dalam kemiskinan.

Laporan terbaru Global Finance menempatkan lima negara sebagai yang termiskin di dunia pada 2026, dengan sebagian besar menghadapi tantangan serupa berupa konflik berkepanjangan dan lemahnya pembangunan ekonomi.

Berikut lima negara termiskin di dunia pada 2026 berdasarkan laporan tersebut.

1. Burundi Masih Menjadi Negara Termiskin di Dunia

Burundi menempati posisi pertama dalam daftar negara termiskin dunia pada 2026. Negara di Afrika Timur ini masih menanggung dampak panjang perang saudara yang berlangsung antara 1993 hingga 2005.

Selain konflik masa lalu, keterbatasan sumber daya alam turut menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Sekitar 80 persen dari total 14 juta penduduk Burundi bergantung pada sektor pertanian subsisten sebagai sumber penghidupan utama.

Ketergantungan tinggi terhadap sektor pertanian membuat Burundi menghadapi tingkat kerawanan pangan hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di kawasan Afrika sub-Sahara. Akses terhadap air bersih, sanitasi, dan listrik juga masih terbatas.

Sejak menjabat pada 2020, Presiden Évariste Ndayishimiye berupaya mendorong pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekonomi nasional. Setelah inflasi sempat mencapai sekitar 45 persen pada awal tahun lalu, IMF memperkirakan ekonomi Burundi mulai menunjukkan stabilitas pada 2026 dengan pertumbuhan mendekati 4 persen.

Nilai dolar internasional Burundi tercatat sebesar 994,23 atau sekitar Rp25 juta.

2. Republik Afrika Tengah Kaya Sumber Daya, Tetapi Tetap Miskin

Republik Afrika Tengah memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari emas, minyak, uranium, hingga berlian.

Namun, kekayaan tersebut belum mampu mengangkat perekonomian negara tersebut secara berkelanjutan sejak memperoleh kemerdekaan dari Prancis pada 1960.

Sebagian besar wilayah Republik Afrika Tengah masih berada di bawah pengaruh kelompok milisi sehingga menghambat investasi dan pembangunan ekonomi. Kondisi keamanan yang belum stabil membuat pertumbuhan ekonomi sulit berkembang secara optimal.

Pada 2026, pertumbuhan ekonomi negara ini diperkirakan mencapai 2,6 persen. Meski demikian, angka tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengurangi tingkat kemiskinan ekstrem yang masih tinggi.

3. Sudan Selatan dan Kutukan Kekayaan Minyak

Sudan Selatan menjadi salah satu contoh negara yang memiliki sumber daya alam besar tetapi tetap bergulat dengan kemiskinan.

Sejak merdeka pada 2011, negara yang dihuni sekitar 15 juta penduduk itu terus menghadapi konflik dan kekerasan yang menghambat pembangunan.

Sudan Selatan kerap disebut sebagai contoh nyata "kutukan sumber daya", yakni kondisi ketika kekayaan alam justru memicu konflik politik, korupsi, dan persaingan kekuasaan.

Sekitar 90 persen pendapatan negara berasal dari ekspor minyak. Namun, konflik internal berkepanjangan membuat distribusi dan pemanfaatan hasil ekspor tersebut tidak berjalan optimal.

Bank Dunia memperingatkan bahwa kemiskinan di Sudan Selatan bersifat sistemik dan sangat ekstrem. Hampir 90 persen penduduk negara tersebut hidup di bawah garis kemiskinan.

Nilai dolar internasional Sudan Selatan tercatat sebesar 1.467,19 atau sekitar Rp38 juta.

4. Yaman Masih Terjebak Krisis Kemanusiaan

Yaman kembali masuk dalam daftar negara termiskin dunia pada 2026. Negara yang memiliki sekitar 43 juta penduduk ini masih menghadapi dampak konflik yang berlangsung sejak 2014.

Perang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara pemerintah yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur serta aktivitas ekonomi nasional.

Kondisi semakin berat setelah blokade Houthi di Selat Bab el-Mandeb pada 2022 mengurangi pendapatan negara dari sektor ekspor minyak.

Akibatnya, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia dengan jutaan penduduk berada dalam kondisi rawan kelaparan akut.

Nilai dolar internasional Yaman mencapai 1.590,19 atau sekitar Rp40 juta.

5. Mozambik Terhambat Konflik dan Ketidakpastian Politik

Mozambik melengkapi daftar lima negara termiskin di dunia pada 2026.

Padahal, negara ini memiliki potensi ekonomi yang besar berkat sumber daya alam melimpah serta posisi geografis yang strategis.

Namun, sejak 2017 wilayah utara Mozambik yang kaya cadangan gas alam terus diganggu oleh serangan kelompok pemberontak Islamis.

Situasi politik juga belum sepenuhnya stabil. Sengketa hasil pemilihan umum pada 2024 memicu kekerasan yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan dunia usaha.

Konflik dan Instabilitas Jadi Benang Merah

Sebagian besar negara dalam daftar ini menghadapi pola persoalan yang hampir sama. Konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, lemahnya pembangunan ekonomi, serta keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar menjadi faktor utama yang membuat masyarakat sulit keluar dari kemiskinan.

Meskipun beberapa negara diperkirakan mencatat pertumbuhan ekonomi pada 2026, tantangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih sangat besar. Stabilitas politik, pembangunan infrastruktur, serta perluasan akses layanan dasar dinilai menjadi fondasi penting agar pemulihan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |