
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 219 kafilah dari 14 kemantren mengikuti Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Tingkat Kota Jogja 2026. Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mendorong agar ajang tersebut tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi menjadi bagian dari penguatan pembinaan spiritualitas dan religiusitas masyarakat.
Hasto menilai kegiatan yang berkaitan dengan penguatan spiritualitas dan religiusitas perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya hadir saat penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga perlu memastikan pembinaan dilakukan secara berkelanjutan.
“Sebetulnya kegiatan-kegiatan seperti ini harus diperkuat dan ditingkatkan. Kalau menurut saya, kegiatan yang mengolah spiritualitas dan religiusitas kita sudah banyak, tetapi peran pemerintah masih kurang,” katanya, Sabtu (5/9/2026).
Hasto Dorong Pembinaan Sejak Awal
Hasto berharap Pemkot Jogja bersama Kementerian Agama Kota Jogja dapat memperkuat pembinaan para peserta sebelum mereka mengikuti ajang di tingkat yang lebih tinggi.
Pembinaan tersebut diharapkan tidak hanya dilakukan ketika kompetisi akan berlangsung. Peserta perlu dipersiapkan lebih awal agar memiliki pembinaan yang berkelanjutan.
“Ke depan kita bersama-sama untuk meningkatkan pembinaannya. Sebelum mengikuti ajang yang lebih tinggi, sebelumnya kita sudah membina dulu,” ujarnya.
Menurut Hasto, penguatan pembinaan keagamaan juga harus didukung anggaran yang memadai. Ia menilai pembinaan rohani semestinya memperoleh perhatian yang seimbang dengan pembinaan fisik dan olahraga.
“Kalau membina fisik saja anggarannya besar, membina rohani harusnya juga tidak kalah besar. Harapan saya ke depan, kalau kemampuan anggaran kita mampu, kita punya kemampuan secara ruang fiskal untuk memperkuat pembinaan,” katanya.
STQH Dirangkaikan Halal Fest
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jogja Ahmad Shidqi mengatakan STQH tahun ini dirangkaikan dengan Halal Fest.
Kegiatan tersebut menghadirkan produk-produk UMKM yang telah mengantongi sertifikat halal. Menurut Ahmad, Halal Fest menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem halal sekaligus mengenalkan produk halal kepada masyarakat.
“Selain untuk membentuk ekosistem halal yang ada di Kota Jogja, paling tidak ini juga bisa menjadi semacam kampanye produk halal. Ini juga dapat membantu sektor lainnya, seperti pariwisata,” ujarnya.
Ahmad menilai sertifikasi halal penting untuk memberikan jaminan kepada masyarakat sebagai konsumen, terutama dalam pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman.
Target Sertifikasi Produk Halal DIY Tercapai
Di tingkat DIY, target sertifikasi sebanyak 23.000 produk halal telah tercapai lebih dari 100 persen. Capaian tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap target nasional satu juta produk halal.
Sosialisasi sertifikasi halal, lanjut Ahmad, terus dilakukan kepada pelaku usaha. Ia berharap dukungan pembiayaan atau subsidi bagi UMKM yang belum memiliki sertifikat halal juga dapat terus diberikan.
“Harapannya makin banyak pelaku usaha, khususnya makanan, bisa tersertifikasi sehingga menjamin hak konsumen,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































