Jumali Kamis, 18 Juni 2026 19:07 WIB

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mulai mengubah wajah pendidikan tinggi. China menjadi salah satu negara yang bergerak paling agresif dengan merombak ribuan program studi di perguruan tinggi demi menyesuaikan kebutuhan industri masa depan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah tantangan besar yang dihadapi lulusan muda. Persaingan kerja yang semakin ketat membuat banyak sarjana kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai bidang yang dipelajari. Kondisi itu mendorong pemerintah dan kampus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap relevansi jurusan yang ada.
Data Kementerian Pendidikan China yang dikutip Xinhua menunjukkan sepanjang 2021 hingga 2025 terdapat sekitar 12.200 program gelar sarjana yang dicabut atau dihentikan. Dalam periode yang sama, sekitar 10.200 program baru dibuka untuk menggantikan bidang studi yang dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan teknologi masa depan.Perubahan tersebut berarti lebih dari 30 persen program studi di universitas China telah mengalami penyesuaian dalam lima tahun terakhir.
Jurusan Humaniora dan Seni Mulai Terdesak
Sejumlah bidang studi yang terdampak kebijakan ini berasal dari kelompok seni, humaniora, bahasa asing, hingga manajemen.Program-program tersebut dinilai menghadapi tingkat persaingan yang sangat tinggi di pasar tenaga kerja. Di saat bersamaan, jumlah lulusan terus bertambah sehingga menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan tenaga kerja dan kebutuhan industri.
South China Morning Post mengungkapkan, kondisi ini terjadi ketika tingkat pengangguran pemuda di China masih menjadi perhatian serius. Banyak lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.
Pemerintah China pun mulai mengarahkan universitas agar lebih fokus menghasilkan talenta yang mendukung strategi pembangunan nasional, terutama di sektor teknologi tinggi.
AI dan Robotika Jadi Prioritas Baru
Sebagai pengganti program yang dihentikan, banyak universitas membuka jurusan baru yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, komputasi canggih, semikonduktor, data science, hingga robotika.
Salah satu bidang yang mulai berkembang adalah "embodied intelligence" atau kecerdasan terwujud. Jurusan ini menggabungkan teknologi AI dengan sistem fisik seperti robot, kendaraan otonom, dan perangkat cerdas lainnya.
Sedikitnya sembilan universitas telah membuka program tersebut sebagai bagian dari upaya mempercepat pengembangan teknologi AI generasi berikutnya.
Bidang ini dipandang strategis karena dapat mendukung transformasi industri manufaktur, logistik, kesehatan, hingga layanan publik yang semakin mengandalkan otomatisasi.
Pendidikan Harus Bergerak Secepat Teknologi
Fenomena di China menunjukkan bahwa perguruan tinggi kini menghadapi tekanan besar untuk terus beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Jurusan yang selama ini dianggap populer atau bergengsi belum tentu memiliki prospek yang sama beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, bidang-bidang baru yang sebelumnya kurang dikenal justru berpotensi menjadi kebutuhan utama dunia kerja.
Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan mengingatkan bahwa pengembangan teknologi tidak berarti menghilangkan peran ilmu sosial, humaniora, atau seni. Bidang-bidang tersebut tetap dibutuhkan untuk mendukung kreativitas, etika, komunikasi, dan pemahaman sosial yang tidak mudah digantikan oleh mesin.
Karena itu, tantangan terbesar perguruan tinggi bukan sekadar membuka jurusan baru, melainkan memastikan kurikulum mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, memiliki keterampilan lintas disiplin, dan siap menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Bagi Indonesia, langkah yang dilakukan China dapat menjadi bahan refleksi. Dunia kerja terus berubah seiring perkembangan AI dan otomatisasi. Perguruan tinggi dituntut lebih responsif terhadap kebutuhan industri, sementara mahasiswa juga perlu terus mengembangkan keterampilan baru agar tetap relevan di era transformasi digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































