Jumali Kamis, 18 Juni 2026 22:07 WIB

Foto ilustrasi pabrik ponsel pintar. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Industri smartphone global menghadapi tekanan besar sepanjang 2026. Firma riset pasar TrendForce memproyeksikan produksi ponsel dunia hanya mencapai 1,051 miliar unit tahun ini atau turun sekitar 16,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut dipicu oleh lonjakan harga komponen memori yang terus meningkatkan biaya produksi berbagai vendor smartphone. Kondisi ini berpotensi berdampak langsung kepada konsumen melalui kenaikan harga perangkat, terutama pada segmen menengah dan entry level yang selama ini menjadi pilihan utama masyarakat.
TrendForce mencatat dampak kenaikan harga memori sebenarnya sudah mulai terlihat sejak paruh kedua 2025. Namun, pengaruhnya baru terasa signifikan pada 2026 karena stok komponen yang dibeli saat harga masih rendah mulai menipis.
Pada kuartal pertama 2026, produksi smartphone global tercatat sekitar 284 juta unit atau turun 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saat itu, sebagian besar produsen masih mampu menahan dampak kenaikan biaya karena memanfaatkan stok lama.
Memasuki kuartal kedua 2026, situasi berubah. Persediaan memori murah semakin menipis sementara harga komponen terus meningkat. Akibatnya, banyak produsen mulai menerapkan strategi produksi yang lebih konservatif untuk menjaga margin keuntungan.
Jika tren kenaikan harga memori terus berlanjut, bukan hanya jumlah produksi yang akan berkurang. Konsumen juga berpotensi menghadapi kenaikan harga smartphone secara bertahap karena produsen harus menyesuaikan biaya produksi yang semakin tinggi.
Di tengah tekanan industri tersebut, Samsung masih mempertahankan posisinya sebagai produsen smartphone terbesar dunia. Pada Januari hingga Maret 2026, perusahaan asal Korea Selatan itu memproduksi sekitar 62,6 juta unit smartphone atau meningkat 2,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut didukung oleh persiapan peluncuran lini Galaxy terbaru serta kuatnya portofolio produk premium yang dimiliki Samsung. Dukungan finansial dari grup Samsung juga dinilai membuat perusahaan lebih siap menghadapi lonjakan biaya komponen.
Apple berada di posisi kedua dengan produksi sekitar 60,2 juta unit pada kuartal pertama 2026. Angka ini melonjak hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya berkat tingginya permintaan terhadap seri iPhone terbaru.
Berbeda dengan Samsung dan Apple, sejumlah produsen asal China menghadapi tantangan yang lebih berat. Oppo memproduksi sekitar 29,5 juta unit, Xiaomi 26 juta unit, dan Vivo 22 juta unit pada periode yang sama.
Ketiga merek tersebut dinilai lebih rentan terhadap kenaikan harga memori karena banyak bermain di segmen menengah dan terjangkau yang memiliki margin keuntungan relatif tipis. Jika kondisi pasar tidak membaik, target produksi mereka berpotensi direvisi ke bawah.
Transsion, perusahaan induk merek Infinix, Tecno, dan Itel, juga menghadapi tekanan serupa. Dengan fokus utama pada pasar smartphone murah, perusahaan ini menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya komponen.
Berikut adalah rincian enam produsen smartphone teratas berdasarkan volume produksi pada kuartal pertama 2026:
| Peringkat | Merek | Produksi (Juta Unit) | Perubahan QoQ | Perubahan YoY | Pangsa Pasar |
| 1 | Samsung | 62,6 | +8% | +2% | 22% |
| 2 | Apple | 60,2 | -31% | +20% | 21% |
| 3 | Oppo | 29,5 | -25% | +8% | 10% |
| 4 | Xiaomi | 26,0 | -37% | -38% | 9% |
| 5 | Vivo | 22,0 | -8% | -8% | 8% |
| 6 | Transsion | 19,8 | -6% | -3% | 7% |
Bagi konsumen, kondisi ini menjadi sinyal bahwa era smartphone murah dengan spesifikasi tinggi bisa semakin sulit ditemukan dalam waktu dekat. Jika harga komponen terus naik, produsen kemungkinan akan mengurangi jumlah model yang dipasarkan atau menaikkan harga jual untuk menjaga profitabilitas.
Meski demikian, persaingan industri diperkirakan tetap berlangsung ketat. Samsung dan Apple berpeluang memperkuat dominasi mereka, sementara vendor lain harus mencari strategi baru untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah tekanan biaya yang semakin besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































