Viral Warga Berebut Air Bekas Cucian Pusaka di Keraton Kasepuhan Cirebon

1 hour ago 2

Viral Warga Berebut Air Bekas Cucian Pusaka di Keraton Kasepuhan Cirebon

Tradisi Siraman Panjang Keraton Kasepuhan Cirebon kembali digelar. Warga antusias berebut air bekas cucian pusaka yang dipercaya membawa berkah. /Instagram.

Harianjogja.com, CIREBON— Ratusan warga dari berbagai daerah memadati kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, untuk mengikuti tradisi tahunan Siraman Panjang menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Antusiasme warga terlihat saat mereka rela berdesakan untuk mendapatkan air bekas cucian pusaka keraton.

Video warga berebut air bekas penyucian pusaka tersebut kemudian viral di media sosial. Sejak pagi, pelataran keraton telah dipenuhi masyarakat yang membawa berbagai wadah, mulai dari botol plastik, jirigen kecil, hingga mangkuk.

Setelah prosesi pencucian pusaka selesai dan air bekas penyucian dialirkan atau dibagikan, warga langsung merangsek maju untuk memperoleh bagian. Masyarakat setempat percaya air tersebut membawa berkah, keselamatan, serta ketenteraman hidup.

Tradisi Menjelang Maulid Nabi

Siraman Panjang merupakan agenda rutin Keraton Kasepuhan Cirebon yang digelar setiap bulan Rabiul Awal atau menjelang puncak peringatan Maulid Nabi yang dikenal sebagai Pel-Alim.

Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan perawatan benda-benda bersejarah milik keraton. Ritual ini juga menjadi simbol pembersihan diri dan penyucian spiritual bagi umat Islam.

Dalam prosesi tersebut, sejumlah pusaka dan piring antik keramat milik Keraton Kasepuhan Cirebon dikeluarkan dari tempat penyimpanan khusus untuk menjalani proses penyucian.

Pusaka yang Dicuci Saat Siraman Panjang

Beberapa pusaka dan benda bersejarah yang digunakan dalam prosesi Siraman Panjang antara lain sebagai berikut.

Piring Panjang Muantyo

Sebanyak sembilan buah Piring Panjang Muantyo berukuran besar memiliki tulisan kaligrafi Arab berupa ayat-ayat Al-Qur'an. Piring tersebut merupakan peninggalan dari era Sunan Gunung Jati.

Pada puncak peringatan Maulid, piring-piring tersebut nantinya digunakan sebagai tempat menyajikan nasi rasol.

Guci Peninggalan Dinasti Ming

Prosesi juga melibatkan dua buah guci antik berbahan keramik kuno yang merupakan peninggalan Dinasti Ming. Guci tersebut digunakan untuk menampung air suci penggerusan kembang dan bahan pembersih pusaka.

Piring Gajah Mungkur dan Piring Kembang

Puluhan Piring Gajah Mungkur dan Piring Kembang berupa keramik antik turut disucikan. Benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah tinggi dan kerap digunakan dalam berbagai prosesi upacara adat keraton.

Keris dan Tombak Pusaka

Sejumlah keris dan tombak pusaka juga menjadi bagian dari benda yang disucikan dalam Siraman Panjang. Senjata tradisional kuno tersebut merupakan peninggalan para wali dan sultan Cirebon.

Proses penyucian dilakukan menggunakan air bunga setaman serta wewangian khusus. Selain bagian dari ritual, proses tersebut ditujukan agar pusaka tetap terawat dan bebas dari karat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |