Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Perundingan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan, membuat nasib gencatan senjata dua pekan masih menggantung dan penuh ketidakpastian.
Pembicaraan yang berlangsung pada Sabtu (11/4/2026) itu berjalan panjang hingga sekitar 24–25 jam. Namun, sejumlah isu utama seperti nuklir dan Selat Hormuz tetap menjadi pengganjal utama yang belum terpecahkan.
Untuk memudahkan memahami situasi terkini, berikut poin penting dari perkembangan terbaru:
- Perundingan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan
Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Mohammad Bagher Qalibaf tidak mencapai titik temu. Kedua pihak masih berselisih dalam sejumlah isu krusial. - Gencatan senjata dua pekan berada di posisi rapuh
Kesepakatan sementara yang dimediasi Pakistan sejak Selasa (7/4) belum mampu menjembatani perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran. - Perbedaan tajam soal nuklir dan militer
Amerika Serikat menuntut penghentian total program nuklir Iran dan produksi rudal. Sementara Iran justru meminta pengakuan hak pengayaan uranium dan pencabutan sanksi ekonomi. - Selat Hormuz jadi titik panas negosiasi
Iran ingin mempertahankan kendali strategis di jalur energi global tersebut, sedangkan Amerika Serikat menuntut keterbukaan penuh jalur pelayaran. - Serangan Israel memperkeruh suasana
Serangan udara di kawasan Dahiyeh, Beirut selatan, sehari setelah gencatan senjata dinilai Iran bertentangan dengan semangat kesepakatan.
Konteks Serangan ke Iran
Konflik memanas sejak akhir Februari setelah serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat menargetkan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan.
Ketegangan tersebut sempat mengancam jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz dan memicu gejolak harga minyak dunia.
Dalam proposalnya, Iran mengajukan 10 poin tuntutan, mulai dari penghentian operasi militer AS hingga pencabutan sanksi. Sementara Amerika Serikat menawarkan 15 poin yang lebih menitikberatkan pada aspek keamanan dan pembatasan nuklir.
Perbedaan pendekatan ini membuat negosiasi sulit menemukan titik temu. Iran menginginkan kesepakatan permanen, sedangkan Amerika Serikat memilih langkah bertahap.
Meski demikian, peluang dialog masih terbuka. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Bagaei menilai wajar jika kesepakatan belum tercapai dalam satu pertemuan.
Pengamat hubungan internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menyebut solusi realistis hanya bisa dicapai jika Iran memperoleh jaminan keamanan dan kedaulatan.
“Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan,” katanya.
Ia juga menilai mekanisme pengawasan bersama di Selat Hormuz dalam kerangka internasional bisa menjadi jalan tengah.
Di tengah kebuntuan ini, rencana blokade angkatan laut Amerika Serikat di Selat Hormuz justru berpotensi memperbesar ketegangan, sekaligus menguji keberlanjutan gencatan senjata yang masih jauh dari kata aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































