Masyarakat saat mengantre untuk mengambil bantuan sembako dari masyarakat Indonesia yang disalurkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Gaza, Palestina. - ANTARA - ist/Baznas RI
Harianjogja.com, JAKARTA—Sebanyak 15.000 paket sembako dari masyarakat Indonesia telah diterima warga di Jalur Gaza, Palestina, di tengah kondisi krisis pangan yang belum mereda. Bantuan ini menjadi salah satu penopang kebutuhan dasar saat pasokan pangan masih terbatas.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI dengan menggandeng mitra internasional seperti Misr Alkhoir di Mesir agar distribusi menjangkau wilayah terdampak secara tepat.
Sekretaris Utama Baznas RI, Subhan Cholid, menyampaikan bantuan tersebut telah melalui proses koordinasi lintas negara yang cukup panjang sebelum akhirnya diterima masyarakat.
"Alhamdulillah, setelah melalui proses pengiriman dan koordinasi lintas negara yang panjang, bantuan yang berasal dari masyarakat Indonesia akhirnya tiba dan tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan di Gaza," ujarnya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Ia menegaskan bantuan itu merupakan amanah yang harus disalurkan secara bertanggung jawab melalui mitra terpercaya di lapangan.
"Bantuan tersebut adalah amanah dari masyarakat Indonesia yang harus segera kami distribusikan secara bertanggung jawab melalui mitra terpercaya di lapangan," katanya.
Krisis Tepung dan Bantuan Global Menyusut
Di tengah penyaluran bantuan tersebut, kondisi pangan di Jalur Gaza masih jauh dari aman. Kebutuhan tepung harian mencapai sekitar 450 ton, sementara pasokan yang tersedia hanya sekitar 200 ton.
Situasi ini memburuk setelah World Central Kitchen menghentikan suplai tepung yang sebelumnya mencapai 20 hingga 30 ton per hari.
Selain itu, Program Pangan Dunia juga mengurangi distribusi dari 300 ton menjadi 200 ton per hari. Sejumlah organisasi lain bahkan menghentikan program bantuan roti dan tepung di wilayah tersebut.
Kantor media pemerintah Gaza menuding pembatasan pasokan oleh Israel memperparah kondisi dengan menciptakan kelangkaan pangan.
Padahal, dalam kesepakatan gencatan senjata, bantuan kemanusiaan seharusnya dapat masuk hingga 600 truk per hari. Namun realisasinya hanya sekitar 38 persen dari kondisi sebelum perang.
Saat ini sekitar 1,9 juta warga Gaza dari total 2,4 juta penduduk hidup mengungsi di tenda-tenda yang tidak layak setelah rumah mereka hancur akibat konflik sejak 7 Oktober 2023.
Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi kehidupan belum banyak berubah karena terbatasnya akses bantuan, termasuk pangan, layanan kesehatan, dan tempat tinggal.
Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai sekitar 172.000 lainnya, serta merusak sekitar 90 persen infrastruktur sipil.
Subhan menegaskan Baznas akan terus mengoptimalkan penyaluran bantuan dan mengajak masyarakat Indonesia untuk terus membantu warga Palestina.
"Kami memastikan penyalurannya tepat sasaran kepada seluruh pihak yang benar-benar membutuhkan," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































