Sering terjadi, hindari 10 kesalahan dalam mengatur keuangan di akhir tahun

3 weeks ago 16

Jakarta (ANTARA) - Menjelang berakhirnya tahun 2025, tidak sedikit orang mulai melakukan evaluasi keuangan sekaligus merencanakan langkah finansial untuk tahun berikutnya. Namun, momen akhir tahun sering kali justru menjadi waktu paling rawan terjadinya kesalahan dalam mengatur keuangan, mulai dari pengeluaran impulsif hingga abai menyusun anggaran.

Tanpa perencanaan yang matang, kondisi finansial bisa terganggu dan berdampak pada stabilitas keuangan di awal tahun. Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai kesalahan fatal saat mengatur keuangan di akhir tahun agar kondisi keuangan tetap sehat dan terkendali, dan pelajaran buat tahun berikutnya.

Berikut ini pembahasan mengenai berbagai kesalahan fatal dalam mengatur keuangan di akhir tahun, yang dirangkum dari sejumlah sumber.

Kesalahan saat mengatur keuangan di akhir tahun

1. Lonjakan pengeluaran yang tidak biasa di akhir tahun

Pada bulan-bulan normal, pengeluaran biasanya relatif terkendali dan mudah diperkirakan. Namun, situasinya berbeda ketika memasuki akhir tahun. Berbagai kebutuhan tambahan mulai bermunculan, seperti hadiah hari raya, acara kantor, pertemuan keluarga, biaya perjalanan, hingga kebiasaan makan di luar. Meski terlihat sepele, pengeluaran kecil yang terjadi berulang kali bisa menumpuk dan berdampak besar pada kondisi keuangan jika tidak disadari sejak awal.

2. Gaya hidup ikut naik karena euforia liburan

Nuansa liburan sering memicu keinginan untuk memberi “hadiah” pada diri sendiri setelah bekerja keras sepanjang tahun. Sayangnya, tanpa batasan yang jelas, keinginan tersebut bisa berujung pada pemborosan.

Ditambah lagi, harga berbagai kebutuhan dan hiburan cenderung meningkat menjelang akhir tahun. Banyak orang tetap berbelanja karena terbawa suasana, meski sebenarnya pengeluaran tersebut tidak sepenuhnya diperlukan.

3. Keliru mengatur bonus akhir tahun

Bonus tahunan kerap dianggap sebagai uang tambahan yang bebas digunakan. Padahal, bonus sejatinya merupakan bagian dari pendapatan yang seharusnya dikelola dengan perencanaan matang. Tanpa strategi yang jelas, bonus bisa habis dalam waktu singkat, alih-alih dimanfaatkan untuk tabungan, investasi, atau memperkuat perlindungan finansial di masa depan.

4. Tidak menyiapkan dana darurat

Masih banyak orang yang menunda membangun dana darurat karena merasa kondisi keuangannya aman. Padahal, situasi tak terduga bisa muncul kapan saja. Tanpa dana cadangan, masalah kecil sekalipun bisa memicu kepanikan dan mendorong seseorang berutang. Menyisihkan dana darurat secara bertahap jauh lebih baik daripada tidak memulainya sama sekali, karena dana ini berperan penting dalam menjaga kestabilan finansial.

5. Menunda menabung dengan alasan penghasilan belum besar

Anggapan bahwa menabung hanya bisa dilakukan saat gaji sudah tinggi membuat banyak orang terus menunda kebiasaan ini. Padahal, yang terpenting bukanlah jumlahnya, melainkan konsistensi.

Dengan menjadikan menabung sebagai prioritas sejak awal, pengeluaran akan menyesuaikan dengan sendirinya. Kebiasaan sederhana ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan keuangan dalam jangka panjang.

6. Tujuan keuangan tidak terdefinisi dengan baik

Tanpa tujuan keuangan yang jelas, pengelolaan uang cenderung tidak terarah. Menentukan target finansial membantu memberikan gambaran ke mana dana dialokasikan dan apa yang ingin dicapai. Dengan tujuan yang terukur, setiap keputusan keuangan menjadi lebih terkontrol dan selaras dengan rencana jangka panjang.

7. Jarang melakukan evaluasi keuangan

Evaluasi keuangan secara rutin sering kali diabaikan. Padahal, langkah ini penting untuk mengetahui apakah kondisi finansial masih sehat atau justru mulai bermasalah. Melalui evaluasi berkala, kamu bisa menilai apakah strategi yang dijalankan masih relevan dan perlu disesuaikan agar tetap sejalan dengan tujuan keuangan.

8. Lupa menyisihkan dana untuk kebutuhan awal tahun

Awal tahun biasanya diiringi berbagai pengeluaran wajib, seperti pajak kendaraan, biaya pendidikan, iuran tahunan, hingga cicilan yang kembali berjalan. Fokus berlebihan pada momen liburan membuat banyak orang lupa menyiapkan dana untuk Januari. Akibatnya, baru memasuki tahun baru, kondisi keuangan sudah terasa berat dan memicu stres.

9. Menganggap bonus sebagai uang tambahan semata

Kesalahan ini masih sering terjadi. Bonus langsung dihabiskan tanpa perhitungan, padahal jika dikelola dengan tepat, dana tersebut bisa memperkuat fondasi keuangan. Memperlakukan bonus sebagai bagian dari pendapatan tahunan membantu menciptakan pengelolaan keuangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

10. Terjebak belanja impulsif karena diskon akhir tahun

Promo dan potongan harga besar-besaran sering membuat belanja berlebihan terasa wajar. Padahal, keputusan membeli tanpa perencanaan justru menjadi pemicu utama kekacauan keuangan di akhir tahun. Belanja yang didorong emosi sesaat bisa berdampak panjang jika tidak dikendalikan.

Baca juga: Cara menyusun target keuangan 2026 agar lebih terarah & berkelanjutan

Baca juga: OJK sambut baik wacana kewajiban asuransi perjalanan bagi wisman

Baca juga: Pemda diminta benahi tata kelola keuangan kejar target realisasi APBD

Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |