Samsung Pimpin Produksi Smartphone Global, Apple Tempel Ketat

6 hours ago 2

Jumali

Jumali Rabu, 10 Juni 2026 18:47 WIB

Samsung Pimpin Produksi Smartphone Global, Apple Tempel Ketat

Kantor Samsung di Seoul Korea Selatan - Bisnis.com

Harianjogja.com, JOGJA—Samsung kembali menjadi produsen smartphone dengan volume produksi terbesar di dunia pada kuartal I-2026. Namun, dominasi raksasa teknologi asal Korea Selatan itu mendapat tekanan dari Apple yang mencatat pertumbuhan produksi signifikan di tengah perlambatan industri ponsel global.

Berdasarkan laporan terbaru firma riset pasar TrendForce, total produksi smartphone global pada periode Januari–Maret 2026 mencapai 284 juta unit. Angka tersebut turun 1,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Samsung berada di posisi teratas dengan produksi 62,6 juta unit smartphone sepanjang kuartal pertama 2026. Capaian ini meningkat 7,6% dibanding kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ) dan naik 2,3% secara tahunan.

Peningkatan produksi Samsung didorong oleh tambahan output dari lini Galaxy S Series terbaru yang masih menjadi tulang punggung segmen premium perusahaan.

TrendForce menilai Samsung memiliki posisi yang relatif kuat dalam menghadapi kenaikan biaya komponen, terutama memori, berkat dukungan finansial grup usaha yang besar serta portofolio produk premium yang luas. Meski demikian, ketergantungan terhadap segmen ponsel kelas bawah masih menjadi tantangan tersendiri.

Di posisi kedua, Apple membukukan produksi 60,2 juta unit iPhone. Jumlah tersebut meningkat 19,7% secara tahunan, ditopang peluncuran model baru termasuk iPhone 17e.

Lembaga riset itu menilai Apple memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyerap kenaikan biaya komponen tanpa mengorbankan margin keuntungan. Strategi perusahaan diperkirakan akan lebih berfokus pada mempertahankan pangsa pasar sekaligus memperkuat bisnis layanan digital dan perangkat lunak.

Vendor Tiongkok Hadapi Tekanan

Di bawah Samsung dan Apple, tiga produsen asal Tiongkok masih menempati jajaran lima besar dunia.

Oppo mencatat produksi 29,5 juta unit, disusul Xiaomi sebanyak 26 juta unit, serta Vivo dengan 22 juta unit.

Namun, ketiga perusahaan tersebut menghadapi tekanan profitabilitas akibat kenaikan harga memori yang terus berlangsung. TrendForce memperingatkan target produksi sepanjang 2026 berpotensi direvisi apabila biaya komponen terus meningkat.

Sementara itu, Transsion, pemilik merek Tecno, Infinix, dan Itel, memproduksi 19,8 juta unit smartphone pada kuartal pertama tahun ini.

Meski volumenya relatif stabil dibandingkan tahun lalu, Transsion dinilai paling rentan terhadap kenaikan harga memori karena fokus pada pasar entry-level dengan margin keuntungan yang tipis.

Di sisi lain, perusahaan tersebut juga berpeluang memanfaatkan celah pasar apabila sejumlah pesaing mengurangi produksi ponsel murah akibat tekanan biaya.

Produksi Kuartal Kedua Diproyeksi Turun

TrendForce memperkirakan dampak kenaikan harga memori akan mulai terasa lebih kuat pada kuartal II-2026.

Pada kuartal pertama, sebagian besar vendor masih mampu menjaga produksi karena memanfaatkan stok komponen yang telah diamankan sebelumnya. Namun, ketika persediaan mulai menipis, produsen diperkirakan akan melakukan penyesuaian produksi.

Lembaga riset tersebut memproyeksikan produksi smartphone global pada kuartal II-2026 dapat turun hingga 16,2% secara tahunan.

Penurunan berpotensi lebih dalam apabila harga memori terus meningkat sehingga memaksa produsen menaikkan harga jual perangkat ke konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |