Rupiah Berpeluang Menguat, Analis Prediksi Sentuh Rp17.500

4 hours ago 4

Rupiah Berpeluang Menguat, Analis Prediksi Sentuh Rp17.500

Ilustrasi uang rupiah - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Prospek penguatan nilai tukar rupiah kembali mendapat perhatian pasar. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memprediksi kurs rupiah masih memiliki ruang untuk menguat hingga berada di level Rp17.500 per dolar AS seiring meningkatnya keyakinan investor terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren yang lebih positif dibandingkan periode sebelumnya. Fakhrul memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak pada rentang Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS dalam sepekan ke depan dengan kecenderungan menguat.

“Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan. Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut Fakhrul, penguatan rupiah saat ini tidak hanya didorong sentimen jangka pendek. Pasar mulai menilai terdapat perbaikan ekspektasi terhadap kebijakan ekonomi nasional yang menjadi faktor penopang utama pergerakan kurs rupiah.

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah sempat menghadapi tekanan akibat kombinasi faktor eksternal dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan domestik. Namun, sejumlah faktor yang sebelumnya membebani pergerakan rupiah kini mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik.

Fakhrul mengungkapkan terdapat tiga faktor utama yang menjadi fondasi penguatan rupiah. Faktor pertama adalah komitmen kuat otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin (bps).

Kebijakan tersebut dinilai memberikan sinyal tegas kepada pelaku pasar bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama. Selain itu, langkah tersebut juga meningkatkan daya tarik berbagai instrumen keuangan Indonesia di mata investor.

Faktor kedua berasal dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, yang mulai memperbaiki persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional.

Meski tergolong kebijakan yang tidak populer, langkah tersebut dipandang sebagai bentuk keberanian pemerintah dalam melakukan penyesuaian yang diperlukan demi menjaga keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sementara itu, faktor ketiga adalah langkah efisiensi serta penyesuaian sejumlah program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang mulai dibaca investor sebagai sinyal kembalinya disiplin fiskal.

“Pasar selama beberapa bulan terakhir menunggu bukti bahwa Indonesia bersedia melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal tersebut mulai terlihat. BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah,” jelas Fakhrul.

Ia menambahkan, respons pasar terhadap berbagai kebijakan tersebut mulai terlihat secara nyata. Pada pekan lalu, rupiah tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan.

Jika proses normalisasi fiskal terus berjalan dan konsistensi kebijakan ekonomi tetap terjaga, peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia pada pekan ini dinilai semakin terbuka.

Selain ditopang faktor domestik, penguatan rupiah juga berpotensi memperoleh tambahan sentimen positif dari perkembangan geopolitik global. Fakhrul menilai membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran dapat membantu menurunkan premi risiko global serta memperbaiki sentimen investor terhadap negara berkembang.

Perkembangan tersebut juga berpotensi mengurangi tekanan terhadap harga energi dunia sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi stabilitas ekonomi global dan pasar keuangan.

“Apabila proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terus bergerak ke arah yang positif, maka momentum penguatan rupiah dapat menjadi semakin kuat. Risiko geopolitik yang menurun biasanya akan mendorong investor kembali masuk ke aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia,” kata Fakhrul.

Meningkatnya arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, dinilai dapat memperkuat posisi rupiah di pasar valuta asing. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang terus dicermati pelaku pasar dalam melihat arah pergerakan rupiah dan prospek stabilitas ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |