Retno Marsudi Perubahan Iklim Perparah Krisis Air Dunia

3 hours ago 2

Retno Marsudi Perubahan Iklim Perparah Krisis Air Dunia

Foto ilustrasi pipa air bersih dari sumber air. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air, Retno Marsudi, menegaskan bahwa perubahan iklim telah memperburuk berbagai tantangan global, termasuk krisis air yang kini menjadi ancaman serius bagi pembangunan, kesehatan, hingga ketahanan pangan.

Dalam Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu, Retno menyebut perubahan iklim sebagai threat multiplier atau pengganda ancaman yang membuat persoalan air semakin kompleks.

“Perubahan iklim adalah pengganda ancaman yang dapat memperburuk semua tantangan yang dihadapi dalam isu air,” kata Retno.

Air Bukan Hanya Persoalan Teknis

Retno menekankan bahwa persoalan air tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu teknis atau sektoral.

Menurutnya, air telah menjadi persoalan politik sekaligus bagian penting dari agenda pembangunan yang harus ditangani secara menyeluruh.

Salah satu langkah yang dinilai mendesak ialah mempercepat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor enam mengenai akses air bersih dan sanitasi layak.

Indonesia Perlu Percepatan Menuju Target SDGs

Retno menjelaskan Indonesia membutuhkan lompatan besar agar target SDGs 2030 dapat tercapai sesuai jadwal.

Ia menyebut pengelolaan air minum yang aman harus meningkat hingga delapan kali lipat dibanding capaian saat ini. Selain itu, peningkatan enam kali lipat dibutuhkan untuk sanitasi yang aman serta dua kali lipat untuk layanan kebersihan dasar.

“Jika kita tidak lakukan ini, maka target-target SDG nomor enam baru akan tercapai pada 2049,” ujar Retno.

Peran Swasta Masih Sangat Kecil

Selain percepatan program, Retno menilai kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci penyelesaian krisis air.

Ia mendorong keterlibatan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, hingga berbagai organisasi untuk bersama-sama memperluas akses layanan air bersih dan sanitasi.

Menurut Retno, kontribusi sektor swasta dalam pembiayaan sektor air masih sangat rendah.

“Sebagian besar pembiayaan yang ada untuk air dan sanitasi berasal dari anggaran publik, 86 persen dari anggaran publik, sektor swasta hanya 2 persen,” ujar Retno.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menunjukkan perlunya peningkatan investasi swasta agar pembangunan sektor air tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah.

Miliaran Penduduk Dunia Masih Krisis Air

Dalam paparannya, Retno mengungkapkan lebih dari 2,2 miliar orang atau satu dari empat penduduk dunia hingga kini belum memiliki akses terhadap air minum yang aman.

Sementara itu, sekitar 3,5 miliar orang atau empat dari sepuluh penduduk dunia masih belum menikmati layanan sanitasi yang layak.

Tak hanya itu, sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air, sedangkan ketersediaan air tawar terbarukan per kapita telah turun sekitar 7 persen dalam satu dekade terakhir.

Tantangan Makin Berat hingga 2050

Retno memperkirakan tekanan terhadap sumber daya air akan semakin besar seiring pertumbuhan populasi dunia yang diproyeksikan mencapai 9,7 miliar jiwa pada 2050.

Peningkatan jumlah penduduk tersebut diperkirakan membutuhkan tambahan produksi pangan sebesar 50 persen dan tambahan pasokan air lebih dari 25 persen.

Ia juga menyoroti bahwa 72 persen tambahan air tawar digunakan untuk sektor pertanian sehingga ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan sangat bergantung pada ketersediaan air.

Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan transformasi digital turut meningkatkan kebutuhan air. Retno menyebut kebutuhan tambahan air diproyeksikan meningkat hingga 129 persen di sejumlah wilayah, sementara sekitar 40 persen pusat data dunia berada di kawasan dengan tingkat tekanan air yang tinggi.

Menurut Retno, tantangan tersebut hanya dapat diatasi melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung aksi iklim serta pencapaian target emisi nol bersih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |