Reog Keprajuritan hingga Bebek Bacem Nglengis dari Sleman Jadi WBTb Nasional

2 hours ago 2

Reog Keprajuritan hingga Bebek Bacem Nglengis dari Sleman Jadi WBTb Nasional

Pemkab Sleman menerima tiga sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional tahun 2025. Sertifikat diserahkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa di Kepatihan pada Sabtu (29/8/2026)./Istimewa -- Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Sleman

Harianjogja.com, SLEMAN—Tiga karya budaya khas Sleman resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional tahun 2025. Ketiganya adalah seni pertunjukan Reog Keprajuritan, Kesenian Sruntul, serta tradisi kuliner Bebek Bacem Nglengis.

Sertifikat WBTb tersebut diserahkan langsung Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa di Kepatihan pada Sabtu (29/8/2026). Penyerahan berlangsung dalam agenda puncak Bulan Warisan Dunia DIY bertajuk "Manjing Ajur-Ajer" Jogja Heritage Alive 2026.

Danang Maharsa menerima tiga sertifikat tersebut mewakili Bupati Sleman. Ia mengaku bersyukur atas penetapan tiga karya budaya Sleman sebagai warisan budaya takbenda nasional.

Menurut Danang, pengakuan tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat bagi pelaku seni dan masyarakat Sleman untuk terus menjaga tradisi lokal agar tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Penghargaan ini tentunya bisa memotivasi dan memberikan semangat lagi kepada berbagai kesenian di Kabupaten Sleman yang masih berjalan agar tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari," kata Danang.

Mengenal 3 WBTb dari Sleman

Salah satu karya budaya yang mendapatkan sertifikat adalah Reog Keprajuritan Sleman. Warisan budaya ini merupakan seni pertunjukan rakyat khas gaya Jogja yang menggambarkan kedisiplinan dan ketangkasan prajurit kerajaan.

Reog Keprajuritan berbeda dengan Reog Ponorogo. Kesenian tersebut menampilkan tarian dengan gerak tegas dan dinamis, formasi baris-berbaris, busana prajurit, serta iringan musik tradisional seperti kendang dan gong yang sarat nilai gotong royong dan kebersamaan.

Selain Reog Keprajuritan, Kesenian Sruntul juga ditetapkan sebagai WBTb nasional. Sruntul merupakan bentuk drama tari dan seni pertunjukan rakyat tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan Sleman.

Pertunjukan Sruntul memadukan tarian, teater kerakyatan, serta musik tradisional. Lakon dan cerita rakyat lokal menjadi bagian dari pementasan yang memiliki ciri khas hangat dan bersahaja.

Warisan ketiga adalah Bebek Bacem Nglengis, kuliner khas yang berpusat di Padukuhan Nglengis, Kalurahan Banyurejo, Tempel, Kabupaten Sleman.

Olahan tersebut memiliki cita rasa manis-gurih yang meresap hingga ke serat daging bebek yang empuk dan tidak amis. Keistimewaan Bebek Bacem Nglengis terletak pada teknik pengolahan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Pemkab Sleman Siapkan Ruang bagi Pelaku Budaya

Dengan ditetapkannya tiga karya tersebut sebagai WBTb nasional, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen terus memfasilitasi dan menyediakan ruang berekspresi bagi pelaku seni, pengrajin, hingga komunitas budaya lokal.

Langkah tersebut menjadi prioritas agar kekayaan tradisi Sleman tetap memiliki ruang hidup dan kelestariannya dapat terjaga melintasi zaman.

"Semoga potensi Sleman dengan sertifikat ini menjadikan kabupaten yang budayanya semakin maju dan dapat hidup di tengah masyarakat sosial, karena budaya merupakan perekat persatuan," ujar Danang Maharsa.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan penyerahan sertifikat tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan warisan budaya takbenda Indonesia yang diakui dunia melalui UNESCO.

Rangkaian agenda tersebut telah berlangsung sejak awal Agustus hingga puncaknya pada akhir pekan ini. Kegiatannya diisi workshop batik, pameran jamu, unjuk karya kebaya, hingga pertunjukan seni rakyat.

Sultan: WBTb Jadi Amanat Moral

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa 84 sertifikat WBTb yang diserahkan se-DIY merupakan bentuk kepercayaan sekaligus amanat moral.

Sultan mengingatkan bahwa keberlangsungan kebudayaan pada dasarnya berada di tangan masyarakat yang bersedia terus menghidupinya.

Karena itu, warisan budaya tidak boleh hanya muncul ketika ada perayaan. Kebudayaan harus hadir dalam pendidikan, pariwisata, ekonomi lokal, hingga tata ruang kampung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |