Piastri Dihadapkan Pilihan Sulit di Tengah Godaan Red Bull

7 hours ago 4

Jumali

Jumali Jum'at, 15 Mei 2026 09:37 WIB

Piastri Dihadapkan Pilihan Sulit di Tengah Godaan Red Bull

Ilustrasi balapan Formula 1 - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Masa depan Oscar Piastri mulai menjadi perbincangan hangat di dunia Formula 1 setelah muncul laporan bahwa Red Bull Racing memasukkannya sebagai opsi pengganti Max Verstappen. Rumor tersebut mencuat di tengah spekulasi ketidakpuasan Verstappen terhadap regulasi mesin baru Formula 1 yang akan berlaku beberapa musim mendatang.

Di tengah isu transfer tersebut, sejumlah pakar Formula 1 justru mengingatkan Piastri agar tidak terburu-buru meninggalkan McLaren yang saat ini sedang menunjukkan perkembangan positif. Mereka menilai keputusan pindah tim demi status pembalap utama belum tentu berakhir sukses.

Mantan insinyur Ferrari, Rob Smedley, menyebut sejarah Formula 1 dipenuhi contoh pembalap yang gagal mendapatkan hasil lebih baik setelah hengkang dari tim besar. Dalam podcast High Performance Racing, ia mengingatkan bahwa ambisi menjadi pembalap nomor satu di tim lain sering kali justru menjadi jebakan karier.

“Apakah Anda pergi ke tim yang lebih buruk yang sebenarnya tidak memiliki peluang memenangkan kejuaraan dunia, hanya agar Anda bisa menjadi pembalap yang lebih baik di tim tersebut? Saya telah melihat hal itu terjadi berkali-kali, dan saya tidak pernah melihatnya berakhir baik,” ujar Smedley.

Menurut Smedley, banyak pembalap kehilangan momentum setelah meninggalkan tim kompetitif demi mencari posisi utama di tempat lain. Ia menilai Piastri sebaiknya tetap bertahan dan berkembang bersama McLaren dibanding mengambil risiko besar di tim baru.

Musim lalu, Piastri memang harus mengakui keunggulan rekan setimnya, Lando Norris, yang sukses merebut gelar juara dunia pertamanya. Namun McLaren saat ini dinilai memiliki fondasi kuat untuk terus bersaing di papan atas Formula 1 dalam beberapa musim mendatang.

Pendapat serupa juga disampaikan mantan Kepala Tim Alpine, Otmar Szafnauer. Ia menilai perpindahan pembalap ke tim baru selalu mengandung dua risiko besar: pembalap harus mampu menjadi nomor satu, sementara tim barunya juga harus berkembang menjadi tim terbaik di grid.

“Jika Anda menjadi nomor dua di Ferrari selama 10 tahun dominasi mereka dan berkata, ‘Saya ingin menjadi nomor satu di tempat lain,’ maka selama sepuluh tahun itu, ke mana pun Anda pergi, tim tersebut bukan yang terbaik,” jelas Szafnauer.

Szafnauer menilai dominasi sebuah tim Formula 1 biasanya berlangsung cukup panjang, seperti era kejayaan Ferrari bersama Michael Schumacher, dominasi Mercedes, hingga Red Bull bersama Verstappen saat ini. Karena itu, belum ada jaminan Red Bull tetap menjadi tim terkuat apabila Verstappen benar-benar pergi.

Situasi tersebut membuat masa depan Piastri menjadi salah satu topik paling menarik di paddock Formula 1 musim ini. Di satu sisi, peluang menjadi pembalap utama Red Bull tentu terlihat menggiurkan. Namun di sisi lain, McLaren justru sedang berkembang menjadi penantang serius gelar juara dunia.

Keputusan yang diambil Piastri dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan dapat memengaruhi arah persaingan Formula 1 dalam jangka panjang, terutama jika bursa transfer pembalap mulai bergerak lebih cepat menjelang regulasi baru mesin Formula 1.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |