Pasien Psikiatri Anak RS Grhasia Naik, Gadget Jadi Sorotan

2 hours ago 4

Pasien Psikiatri Anak RS Grhasia Naik, Gadget Jadi Sorotan

Foto ilustrasi kesehatan mental. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN— Jumlah pasien layanan psikiatri anak dan remaja di RS Grhasia DIY meningkat signifikan. Hingga pertengahan 2026, sekitar 900 pasien telah mendapatkan pelayanan, naik dari sekitar 300 pasien sebelum layanan psikiatri anak dan remaja dibuka.

Direktur RS Grhasia DIY Ahmad Akhadi mengatakan peningkatan jumlah pasien tersebut salah satunya terjadi setelah rumah sakit membuka layanan khusus psikiatri anak dan remaja. Kelompok usia di bawah 14 tahun menjadi pasien yang paling banyak mendapatkan pelayanan.

“Demikian juga untuk pasien-pasien psikiatri anak dan remaja. Sebelum kami membuka pelayanan anak dan remaja itu juga sekitar 300-an,” kata Akhadi kepada Harianjogja.com, Kamis (10/6/2026).

Menurut Akhadi, jumlah pasien yang telah dilayani hingga pertengahan tahun ini mencapai sekitar 900 orang. Salah satu faktor yang membuat jumlah pasien di RS Grhasia cukup besar adalah terbatasnya tenaga ahli psikiatri anak dan remaja di DIY.

Hanya Ada Tiga Ahli Psikiatri Anak dan Remaja di DIY

Akhadi menyebut saat ini hanya terdapat tiga tenaga ahli anak dan remaja di DIY. Para ahli tersebut berada di beberapa rumah sakit, termasuk RS Grhasia.

Keterbatasan tenaga ahli tersebut membuat kapasitas pelayanan psikiatri anak dan remaja di RS Grhasia menjadi salah satu yang cukup besar.

“Kenapa anak remaja itu lebih banyak? Karena di Daerah Istimewa Yogyakarta ahli anak dan remaja itu hanya ada tiga,” ujarnya.

Di antara berbagai kondisi yang ditemukan pada pasien anak dan remaja, penggunaan gadget menjadi salah satu faktor yang banyak dilaporkan. Ketergantungan terhadap gawai dinilai dapat memengaruhi perilaku anak.

Akhadi mengatakan kondisi tersebut antara lain dapat terlihat dari keengganan anak untuk bersekolah, kemunduran prestasi, hingga kesulitan berkonsentrasi karena perhatian lebih banyak tertuju pada gadget.

“Yang anak dan remaja tadi dilaporkan paling banyak itu adalah pengaruh gadget. Jadi adanya ketergantungan terhadap gadget sehingga mengakibatkan anak-anak kita itu termanifestasikan tidak mau sekolah, kemunduran prestasi,” jelasnya.

Penanganan Tidak Hanya Mengandalkan Obat

Selain menangani anak dengan gangguan akibat ketergantungan gadget, RS Grhasia juga menerima sebagian pasien anak dengan autisme.

Akhadi menjelaskan penanganan gangguan pada anak yang berkaitan dengan ketergantungan gadget tidak cukup hanya dengan memberikan obat. Terapi farmakologis hanya menjadi salah satu bagian dari keseluruhan proses terapi yang diberikan kepada pasien.

Pasien juga membutuhkan rehabilitasi, termasuk rehabilitasi perilaku. Terapi bicara turut diberikan apabila pasien mengalami gangguan komunikasi.

“Obat-obat farmako itu memang hanya bagian separuh dari keseluruhan proses terapi. Yang kita berikan juga adalah rehabilitasi, dengan cara rehabilitasi perilaku,” katanya.

Menurut Akhadi, ketergantungan terhadap gadget dapat membuat anak terlalu terfokus pada gawai sehingga perhatian terhadap lingkungan sekitar berkurang.

Namun, kondisi tersebut termasuk kategori gangguan jiwa apabila telah memenuhi diagnosis berdasarkan pedoman penegakan diagnosis gangguan jiwa.

Pasien Psikiatri Lansia Juga Meningkat

Peningkatan jumlah pasien tidak hanya terjadi pada layanan psikiatri anak dan remaja. RS Grhasia juga mencatat kenaikan pasien pada layanan psikiatri geriatri atau pasien lanjut usia.

Sebelum layanan psikiatri geriatri dibuka, jumlah pasien lansia yang dilayani RS Grhasia dalam satu tahun berada pada kisaran 300-400 orang.

“Kalau sebelum dibuka psikiatri geriatri itu dalam satu tahun pasien kita untuk orang-orang lansia itu sekitar 300-400. Tahun ini sampai bulan Agustus saja sudah 600 pasien,” ucapnya.

Akhadi mengatakan munculnya gangguan kejiwaan pada pasien lanjut usia berkaitan dengan penurunan fungsi otak yang terjadi seiring bertambahnya usia.

Dengan demikian, peningkatan layanan psikiatri di RS Grhasia terjadi pada dua kelompok usia, yakni anak dan remaja serta lanjut usia. Pada kelompok anak dan remaja, penggunaan gadget menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan, sementara pada kelompok lansia gangguan kejiwaan berkaitan dengan penurunan fungsi otak seiring pertambahan usia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |