Newswire Sabtu, 01 Agustus 2026 14:07 WIB

Ilustrasi serangan jantung (Freepik)
Harianjogja.com, TANGERANG— Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Cynthia Agnes Susanto mengingatkan bahwa obesitas pada perempuan tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan penampilan. Kondisi tersebut merupakan penyakit metabolik kronis yang berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi, sistem pembuluh darah, hingga jantung.
Menurut dr. Cynthia, dampak obesitas dapat dirasakan sejak masa remaja hingga pascamenopause. Risiko yang ditimbulkan mencakup gangguan ovulasi, siklus menstruasi yang tidak teratur, infertilitas, hingga komplikasi selama kehamilan.
"Obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter," kata dr. Cynthia Agnes Susanto dalam keterangannya di Tangerang, Jumat.
Prevalensi Obesitas Perempuan Lebih Tinggi
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 47,2 juta atau sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas.
Data tersebut juga menunjukkan prevalensi obesitas pada perempuan mencapai 36,4 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berada di angka 24,4 persen.
Berkaitan Erat dengan Gangguan Hormon
Dr. Cynthia menjelaskan salah satu kondisi yang berkaitan erat dengan obesitas adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
Perubahan istilah tersebut mencerminkan perkembangan ilmu kedokteran yang memandang kondisi tersebut bukan hanya sebagai gangguan pada ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormon (endokrin) dan metabolisme secara menyeluruh.
Menurutnya, PMOS merupakan penyebab paling sering terjadinya gangguan ovulasi. Sekitar 35 hingga 50 persen penderita PMOS juga mengalami obesitas.
Hubungan keduanya bersifat saling memengaruhi. Obesitas dapat memperburuk gejala PMOS, sementara gangguan hormon dan metabolisme akibat PMOS membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih sulit.
Penanganan Dilakukan Secara Multidisiplin
Karena melibatkan berbagai aspek kesehatan, penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Pendekatan tersebut meliputi perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik bagi pasien yang memenuhi kriteria.
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, tersedia pula terapi menggunakan GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak sebagai pelengkap perubahan gaya hidup di bawah pengawasan dokter.
"Terapi tersebut juga mendukung penurunan berat badan berkualitas yaitu pengurangan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen, serta memulihkan parameter kesehatan metabolisme tubuh secara menyeluruh," ujarnya yang juga RSIA Grand Family.
Edukasi Berbasis Fakta Dinilai Penting
Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, mengatakan masyarakat perlu memperoleh edukasi berbasis fakta ilmiah agar memahami obesitas sebagai masalah kesehatan, bukan sekadar persoalan penampilan.
Menurutnya, perempuan perlu mengetahui risiko obesitas sejak dini sehingga dapat segera mencari bantuan medis dan memperoleh penanganan yang tepat.
"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan," ujar dr. Riyanny Meisha Tarliman.
Ia menambahkan bahwa setiap penderita obesitas memerlukan konsultasi medis agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat, pihaknya menyediakan platform NovoCare.id yang memuat alat ukur indeks massa tubuh untuk penapisan awal serta direktori pencarian dokter guna membantu masyarakat memulai pengelolaan berat badan secara profesional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































