
Tim peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM mengerahkan geolistrik untuk melihat melihat variasi lapisan bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitas atau tahanan jenis batuan pada Selasa (9/6/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Fenomena api misterius yang muncul di permukiman warga Seyegan, Sleman, mulai menemukan titik terang. Tim peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi mengungkap adanya anomali bawah permukaan yang diduga berkaitan dengan kemunculan api tersebut.
Temuan ini diperoleh setelah tim melakukan pemindaian geolistrik secara detail di sekitar lokasi pada Selasa (9/6/2026). Peneliti UGM, Saptono Budi Samodra, menjelaskan metode geolistrik digunakan untuk membaca variasi lapisan tanah berdasarkan nilai resistivitas atau tahanan jenis batuan.
Berbeda dengan survei sebelumnya yang dilakukan oleh tim dengan cakupan luas, UGM memilih pendekatan lebih rinci. Pengukuran dilakukan dengan spasi antar titik sekitar satu meter untuk menangkap variasi mikro di sekitar rumah warga.
Hasil awal menunjukkan adanya anomali resistivitas di sisi selatan rumah, tepat beberapa meter dari titik munculnya api. Anomali ini mengindikasikan adanya material berbeda di bawah permukaan tanah.
“Nilai resistivitas yang berbeda ini bisa menunjukkan adanya rekahan, rongga, atau bahkan benda yang tertimbun di bawah tanah,” ujar Saptono.
Ia menjelaskan, jika pola anomali menunjukkan pergeseran, maka besar kemungkinan terdapat rekahan bawah tanah yang dapat menjadi jalur keluarnya gas. Namun jika berbentuk terlokalisasi, bisa jadi merupakan objek padat seperti batuan besar atau endapan tertentu.
Meski demikian, Saptono menegaskan bahwa hasil ini masih bersifat awal dan perlu melalui proses pemodelan lanjutan untuk mengetahui bentuk, kedalaman, serta orientasi anomali secara pasti.
Penelitian ini juga mengaitkan kondisi geologi setempat dengan endapan Gunung Merapi. Secara umum, wilayah tersebut tersusun dari material vulkanik. Namun, peneliti ingin memastikan apakah terdapat lapisan endapan halus atau cekungan yang berpotensi menjadi perangkap gas.
“Kalau ada endapan rawa purba atau lapisan lunak, itu berpotensi menjadi sumber gas yang kemudian keluar melalui rekahan,” jelasnya.
Sebelumnya, tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta juga melakukan survei geolistrik untuk mengidentifikasi lapisan batuan serta mendeteksi kemungkinan adanya kantong gas di bawah permukiman warga. Dalam survei tersebut, mereka membentangkan kabel sepanjang 200 meter dan menginjeksikan arus listrik ke dalam tanah untuk membaca respons lapisan bawah permukaan.
Koordinator tim UPNVY, Ardian Novianto, menyebut bahwa lapisan batuan tertentu diduga dapat menjadi tempat akumulasi gas, sementara struktur geologi seperti retakan berfungsi sebagai jalur keluarnya gas ke permukaan.
Kombinasi data dari kedua tim ini akan diintegrasikan untuk mendapatkan gambaran utuh kondisi bawah tanah di lokasi kejadian. Analisis lintas metode ini diharapkan mampu mengungkap penyebab utama munculnya api misterius yang sempat meresahkan warga.
Dengan pendekatan ilmiah berbasis geofisika, para peneliti optimistis fenomena ini dapat dijelaskan secara rasional, sekaligus meminimalkan spekulasi yang berkembang di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































