Merasa Bersalah Saat Istirahat? Psikolog Ungkap Penyebab dan Solusinya

4 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA—Banyak orang mengaku merasa tidak tenang saat beristirahat, bahkan diliputi rasa bersalah ketika memilih rebahan atau tidak melakukan apa pun. Kondisi yang dikenal sebagai productivity guilt ini dinilai bukan sekadar persoalan kebiasaan, tetapi juga dipengaruhi cara berpikir, budaya, hingga faktor psikologis.

Perasaan tersebut bisa muncul ketika pikiran terus tertuju pada pekerjaan yang belum selesai atau muncul keyakinan bahwa waktu istirahat sama dengan kemalasan. Padahal, para ahli menegaskan istirahat merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan mental dan mencegah burnout.

Mengutip Time, Asisten Profesor Psikologi di Universitas Florida Erin Westgate telah mempelajari fenomena tersebut sekitar satu dekade lalu melalui penelitian yang menguji bagaimana respons seseorang ketika hanya diminta duduk bersama pikirannya selama beberapa menit.

Menurut Westgate, para peneliti semula menduga kesempatan untuk melambat dan menyadari pikiran di tengah kesibukan akan terasa menyenangkan serta meningkatkan kesejahteraan.

"Yang terjadi justru sebaliknya, orang-orang merasa sangat tidak nyaman tidak melakukan apa-apa sehingga banyak yang lebih memilih memberikan kejutan listrik kecil pada diri mereka sendiri," ujarnya.

Ia menjelaskan banyak orang tidak terbiasa membiarkan pikirannya mengalir tanpa dorongan untuk terus bertindak. Akibatnya, sekadar tidak melakukan apa pun justru terasa berat dan menguras kemampuan kognitif.

Fenomena serupa juga dikaji Profesor Psikologi di Universitas Negeri Pennsylvania Michelle Newman melalui konsep relaxation anxiety dan relaxation sensitivity. Kedua istilah tersebut menggambarkan rasa tidak nyaman, bosan, atau gelisah yang dialami sebagian orang ketika mencoba melambat.

Menurut Newman, sebagian orang memiliki keyakinan bahwa mereka harus selalu sibuk.

"Sering kali orang merasa tidak boleh hanya sekadar membaca buku bagus atau menonton acara TV yang bagus," ungkapnya.

Budaya yang mengagungkan kesibukan juga dinilai memperkuat perasaan tersebut. Penulis buku Do Nothing: How to Break Away from Overworking, Overdoing, and Underliving, Celeste Headlee, mengatakan masyarakat telah lama dibentuk untuk meyakini bahwa produktivitas secara moral lebih bernilai dibandingkan istirahat.

"Penelitian menunjukkan bahwa orang, dalam berbagai tingkatan, dimotivasi oleh apa yang mereka rasakan "seharusnya" mereka lakukan, beberapa orang mungkin merasa bersalah ketika menyimpang dari hal tersebut," ucapnya.

Asisten Profesor di Wharton School Universitas Pennsylvania Rebecca Schaumberg menemukan bahwa orang yang mudah merasa bersalah cenderung menjadi pekerja yang lebih produktif dan dapat diandalkan. Namun, ia mempertanyakan apakah kondisi tersebut benar-benar baik bagi individu.

"Rasa bersalah bisa berdampak baik di tempat kerja, tetapi itu tidak selalu berarti baik bagi orang yang merasakannya. Terutama jika itu mencegah mereka untuk mengambil waktu sejenak melangkah mundur dan melepaskan penat," ujarnya.

Padahal, stres kronis diketahui berdampak buruk terhadap hampir seluruh aspek kesehatan mental dan fisik, bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis hingga kematian dini.

Asisten Profesor Psikologi di Harvard Medical School Christina Luberto menjelaskan relaksasi tidak selalu identik dengan meditasi. Secara ilmiah, relaksasi berarti mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pernapasan.

"Anda dapat memicu kondisi fisiologis tersebut dalam aktivitas apa pun yang melibatkan fokus tunggal dan terarah sambil mengesampingkan gangguan yang mengganggu atau tidak relevan," jelasnya.

Menurut Luberto, aktivitas seperti berkebun, memasak, hingga membacakan cerita untuk anak dapat menjadi bentuk relaksasi yang efektif bagi orang yang tidak nyaman dengan praktik mindfulness.

Cara Mengatasi

Mengutip Verywell Mind, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi productivity guilt.

Pertama, membingkai ulang makna istirahat sebagai proses pemulihan yang produktif. Psikoterapis Sophie Elkins mengatakan memaksakan diri terus bekerja tanpa memberi waktu tubuh beristirahat merupakan jalan menuju burnout yang dapat memengaruhi hubungan sosial, kesehatan mental, kesehatan fisik, hingga kinerja.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti mengharapkan ponsel tetap dapat digunakan ketika baterainya habis.

"Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa burnout emosional berkaitan dengan peningkatan penurunan produktivitas. Istirahat bukan hanya hal yang produktif, melainkan investasi penting bagi kesejahteraan dan kinerja kerja kita."

Kedua, mendefinisikan ulang produktivitas agar tidak hanya diukur dari hasil pekerjaan. Psikoterapis Aliza Shapiro menyarankan agar produktivitas juga mencakup aktivitas yang membantu memulihkan energi, seperti membangun hubungan sosial, meluangkan waktu untuk diri sendiri, dan melatih kesadaran penuh.

"Dengan kata lain memeluk momen untuk ada (being) daripada terus-menerus berbuat (doing)," jelasnya.

Ketiga, melepaskan harga diri dari pencapaian pekerjaan. Terapis Sotiriadis mengatakan rasa bersalah saat tidak melakukan apa pun sering muncul karena seseorang merasa nilai dirinya hanya ditentukan oleh prestasi atau hasil kerja.

"Sebagai contoh, Anda mungkin hanya merasa berharga jika berhasil mendapatkan promosi setelah mengambil tugas-tugas di luar deskripsi pekerjaan Anda, atau diberi kendali atas proyek besar."

Keempat, mengakui rasa bersalah yang dirasakan. Apabila kelelahan mental mulai mengganggu, seseorang dapat berbicara dengan atasan yang dipercaya untuk mencari solusi. Jika tidak memungkinkan, berdiskusi dengan teman yang dapat mengingatkan bahwa mengambil waktu beberapa jam atau bahkan sehari penuh untuk beristirahat merupakan hal yang wajar juga dapat menjadi pilihan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |