
Omzet pedagang pasar tradisional Bantul turun 17 persen. DPRD menyoroti transaksi online dan kondisi pasar yang kurang representatif. /Harian Jogja-Kiki Luqman.
Harianjogja.com, BANTUL— Pasar tradisional di Kabupaten Bantul menghadapi tantangan di tengah perubahan pola belanja masyarakat. Transaksi secara online dinilai ikut berdampak terhadap omzet dan pendapatan pedagang pasar rakyat yang terus mengalami penurunan.
Anggota Komisi B DPRD Bantul, Heru Sudibyo mengatakan omzet pedagang pasar tradisional di Bantul turun hingga 17% pada triwulan pertama tahun ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian DPRD Bantul karena pasar rakyat juga menghadapi sejumlah persoalan lain.
Menurut Heru, penurunan omzet tidak hanya disebabkan oleh semakin maraknya transaksi online. Kondisi fisik sejumlah pasar tradisional di Bantul yang dinilai kurang representatif juga menjadi salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian.
"Misalnya contoh ya kebersihannya, termasuk bangunan yang enggak bagus. Nah ini kan perlu ada pembenahan, ada rehabilitasi. Sehingga nanti lebih menarik," kata Heru, Senin (21/9/2026).
DPRD Bantul Dorong Revitalisasi Pasar
Heru mengatakan berbagai persoalan yang dihadapi pasar tradisional perlu diidentifikasi secara optimal oleh dinas terkait. Dengan begitu, pembenahan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing pasar.
DPRD Bantul, lanjut dia, siap memfasilitasi kebutuhan anggaran apabila memang diperlukan, terutama untuk mendukung program revitalisasi pasar tradisional.
"Di APBD perubahan tahun ini sepertinya ada tambahan lagi pasar yang direvitalisasi, tapi saya kurang hafal anggarannya berapa dan untuk pasar mana saja," ujarnya.
Menurut Heru, perbaikan pasar tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga kondisi lingkungan pasar. Kebersihan dan kenyamanan menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar masyarakat kembali tertarik berbelanja secara langsung.
ASN Diminta Belanja ke Pasar Tradisional
Sebelumnya, Pemkab Bantul juga telah mengeluarkan kebijakan yang mendorong ASN di lingkungan pemerintah daerah berbelanja ke pasar tradisional setiap Jumat.
Heru menilai gerakan tersebut sedikit banyak dapat membantu meningkatkan kembali minat masyarakat untuk berbelanja di pasar rakyat. Namun, menurutnya, gerakan tersebut perlu diperkuat dengan promosi yang dilakukan para ASN.
"Pesan kami, selain belanja ASN juga bisa mempromosikan apa yang unik di pasar tersebut dan diunggah ke media sosial. Juga ajak pedagang agar selalu menjaga kebersihan. Mudah-mudahan nanti menjadi daya tarik," ungkapnya.
Promosi melalui media sosial dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan keunikan masing-masing pasar kepada masyarakat. Di sisi lain, pedagang juga perlu menjaga kebersihan agar pengalaman berbelanja di pasar tradisional menjadi lebih menarik.
Regenerasi Pedagang Jadi Tantangan
Persoalan pasar tradisional di Bantul tidak berhenti pada penurunan omzet. Regenerasi pedagang juga menjadi tantangan karena tidak banyak generasi sekarang yang bersedia melanjutkan usaha orang tua mereka atau memilih menjadi pedagang di pasar rakyat.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat pasar tradisional semakin kehilangan pelanggan pada masa mendatang. Karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu membuat pasar rakyat kembali hidup dan menarik bagi masyarakat.
Heru menyampaikan kebijakan tersebut perlu inovatif dengan mempertimbangkan perubahan perilaku konsumen. Kemudahan transaksi online memang memberikan pilihan baru bagi masyarakat, tetapi pasar tradisional tetap memiliki ruang untuk bersaing melalui kualitas dan harga barang.
"Masyarakat sekarang kan cerdas ya, kalau beli barang tentu sewajarnya orang ingin dengan harga murah kualitas bagus dan itu yang harus dijawab pasar tradisional," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































