Kopi Sapuangin Klaten Diburu, Petani Batasi Pesanan

6 hours ago 3

Kopi Sapuangin Klaten Diburu, Petani Batasi Pesanan

Juli, petani kopi Sapuangin Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang menunjukkan biji kopi yang dikeringkan belum lama ini. /Solopos-Taufiq Sidik Prakoso.

Harianjogja.com, KLATEN— Kopi Sapuangin dari lereng Gunung Merapi, Klaten, semakin banyak diminati. Tingginya permintaan bahkan jauh melampaui kemampuan produksi kelompok petani sehingga penjualan harus dibatasi agar stok tetap tersedia hingga musim panen berikutnya.

Sapuangin merupakan sebutan untuk wilayah di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, yang mencakup sejumlah dukuh di bagian atas. Pertanian kopi di kawasan tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak zaman dahulu, termasuk pada masa kolonial.

Namun, tanaman kopi sempat menghilang selama lebih dari dua dekade. Para petani kemudian kembali menanam kopi, baik di ladang maupun halaman rumah, setelah mendapatkan pengetahuan mengenai budi daya hingga pengolahan pascapanen.

Pengolahan yang tepat membuat petani mampu menghasilkan kopi berkualitas yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran.

Pesanan Kopi Sapuangin Harus Dibatasi

Juli menjadi salah satu pegiat Kopi Sapuangin. Di samping rumahnya, tanaman kopi tumbuh subur, sementara tidak jauh dari sana terdapat rumah pengering kopi yang ditutup plastik UV.

Bangunan tersebut digunakan untuk mengeringkan kopi sehingga proses pengeringan dapat berlangsung secara terkontrol.

Juli juga mengelola Sapuangin Coffee and Farm, kedai yang mengolah kopi hasil petani setempat. Kedai tersebut menawarkan suasana perbukitan hijau di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi dengan latar belakang Gunung Merapi.

Menurut Juli, tingginya permintaan terhadap Kopi Sapuangin belum diimbangi produksi yang tersedia. Kondisi tersebut membuat penjualan harus diatur agar stok tetap terjaga dan pesanan tetap dapat dipenuhi.

"Untuk roast bean kami selalu ready. Kalau green bean, kami enggak selalu ready. Sebenarnya kalau kami jual green bean semua, sebenarnya langsung laku meskipun satu hingga dua pekan barang kami semua bisa habis. Tetapi karena kami juga butuh, maka kami mengelola supaya stok terjaga sampai panen tahun depan sehingga kami batasi. Jadi misalnya kalau ada permintan 5 kg, kami beri 2 kg," jelas Juli saat ditemui Espos di rumahnya pekan lalu.

Permintaan Kopi Sapuangin tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Klaten. Pengiriman ke Jakarta menjadi salah satu permintaan yang rutin dilakukan, sementara pesanan juga datang dari sejumlah wilayah lain hingga Pulau Kalimantan.

Permintaan Capai 10 Ton, Produksi Baru 3 Ton

Juli mengatakan petani di Sapuangin menanam beragam varietas kopi. Beberapa di antaranya yakni Yellow Bourbon, Abyssinia, Catimor, Lini S, dan Sigararutang.

Dari berbagai varietas tersebut, Yellow Bourbon dan Abyssinia menjadi jenis yang banyak ditanam sekaligus menjadi varietas unggulan. Petani juga melakukan proses pencampuran dari berbagai varietas.

"Kami juga ada proses mix [mencampur dari berbagai varietas]," kata Juli.

Wilayah Tegalmulyo berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi tersebut membuat kawasan tersebut cocok untuk budi daya tanaman kopi.

Kopi sebenarnya telah menjadi salah satu tanaman yang dibudidayakan petani Tegalmulyo sejak zaman dahulu. Namun, pada 1990-an, banyak tanaman kopi ditebang setelah harga komoditas tersebut jatuh di pasaran.

Petani kemudian memilih menanam komoditas lain. Kopi di Tegalmulyo, khususnya Sapuangin, mulai kembali menggeliat sekitar 2017.

Pengembangan kembali tanaman kopi tersebut berawal dari penanaman bibit kopi Yellow Bourbon dari Classic Bean Bandung.

Pemuda Sapuangin kemudian mempelajari budi daya kopi hingga pengolahan hasil panen. Pengetahuan tersebut selanjutnya mulai ditularkan kepada petani lainnya.

Saat ini setidaknya terdapat sekitar 2.000 tanaman kopi di Tegalmulyo.

Pegiat Kopi Sapuangin, Srijono, mengatakan permintaan kopi asal Tegalmulyo sangat tinggi. Permintaan di pasaran mencapai sekitar 10 ton.

Sementara itu, kelompok petani kopi Sapuangin baru memproses sekitar 3 ton biji kopi pada 2025. Artinya, produksi kelompok petani masih belum mampu memenuhi sebagian besar permintaan pasar.

Pembeli Rela Inden hingga Enam Bulan

Keterbatasan produksi tidak membuat minat pembeli terhadap Kopi Sapuangin surut. Srijono bersyukur sejumlah pembeli justru bersedia menunggu hingga petani memasuki musim panen.

Bahkan, terdapat pembeli yang rela melakukan inden hingga enam bulan untuk mendapatkan kopi berkualitas dari petani Tegalmulyo.

Menurut Srijono, kualitas kopi yang dihasilkan melalui proses pengolahan yang tepat menjadi salah satu alasan pembeli bersedia menunggu. Selain itu, keberadaan varietas tertentu yang belum banyak ditanam juga menjadi daya tarik tersendiri.

"Varietas Yellow Bourbon belum banyak," kata Srijono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |